Rabu, 09 Maret 2016

DOSEN DISPLAY

Tulisan ini sudah ditulis hampir setahun lalu, tapi belum juga dipublikasi .... Baiklah kuselesaikan sajalah ...

Profesi dosen pada dasarnya adalah profesi yang penuh ambiguitas. Di satu sisi, ia sangat bergengsi karena pemegang profesi tersebut biasanya berpendidikan tinggi dan memiliki kapital budaya yang kuat. Namun di sisi lainnya, profesi tersebut masih dianggap sebagai profesi rendahan karena perlakuan negara yang memang sangat rendah pada pendidik termasuk dosen.

Saya tidak sedang mood untuk membahas posisi pendidik dari segi makro dalam level negara. Saya lebih senang membahas dari lingkup yang lebih sempit, yaitu profesi dosen di mata saya yang seorang dosen.

Saya sungguh bahagia karena mengajar adalah cita-cita saya sejak kecil. Sejak kecil pun, saya sudah tahu ada beda penghasilan seorang guru dengan seorang manajer perusahaan misalnya, apalagi lagu Oemar Bakri seru sekali dibahas waktu saya kecil. Jadilah, saya dengan sadar dan bangga menyatakan bahwa memang keinginan sayalah saya menjadi dosen, bukan dalam rangka mencari materi, namun memenuhi panggilan hidup.

Tidak cuma soal panggilan hidup, sepertinya memang takdir saya ya mentok di sana, mengingat ayah saya, ayah dari ayah saya, kakak ayah saya, adik ayah saya, ibu dari ibu saya, dan beberapa kerabat lain kok ya mengajar semua ... Jadi, sepertinya jalan itu memang sudah dipetakan untuk hidup saya nampaknya.

Beberapa kali bergabung dengan insitusi pendidikan cukup bagi saya mengetahui ada "spesies" dari "genus" dosen yang berjenis Dosen Display. Menarik mencermati spesies yang satu ini, karena secara tampilan dan status, kaum ini adalah dosen tulen. Hanya bedanya, mereka biasanya menjadi dosen karena keadaan, bukan karena alasan romantisme norak model saya, niat atau panggilan hidup, halah ... Alasan mereka lebih pragmatis, ya karena tidak ada kerjaan lain, ditawari teman, melihat peluang, atau ya yang paling parah di kerjaan lain juga udah mentok gak ada yang terima.

Dosen display ini kocak luar biasa. Gayanya mengajar selangit bahkan kalau perlu sampai dikenal sebagai dosen killer supaya mahasiswa yakin betapa serius aktingnya, Padahal sih itu dilakukannya untuk menutupi ketidakmampuannya dalam mengajar dan mengabdi. Biasanya logika mengajar pun wassalam. Ada lagi dosen display yang selalu jadi model untuk perekrutan mahasiswa baru. Nah, yang model begini biasanya ditampilkan bila sudah dekat-dekat penerimaan mahasiswa baru, duduk paling depan dalam acara-acara keluar institusi. Biasanya background dosen model begini adalah dosen yang berpengalaman dalam training-training perbankan, PR, Humas, dll, sehingga bisa sekalian berguna untuk menjadi bagian dari SDM. Ada lagi dosen display lain yang memang ditanggep untuk display saja di media massa misalnya. Serulah dosen-dosen display ini.

Yang menarik, dosen display biasanya juga muncul dalam posisi-posisi strategis. Mengapa? ya gak papa, lha wong secara akademis pastinya berantakan, siapa tau bagian lain malah perlu. Masalahnya, dengan kapasitas terbatas, biasanya kerjaannya juga ke atasan untuk pamer kerjaan bawahan dan mengakuinya sebagai prestasi pribadi.

Makhluk yang satu ini tidak terlalu berbahaya sebenarnya. Untuk mahasiswa, cara menghadapi makhluk model begini, disarankan selalu memuji atau "menjilat-jilat" yang bersangkutan, dengan demikian kepercayaan dirinya naik dan semakin semangat dalam bekerja, walaupun kualitas tetap tidak terjamin, Nah untuk sesama dosen, yang model begini jangan dibiarkan, karena model dosen display pasti adalah tipe ambisius, bila tak punya daya saing tinggi, doi gampang banget digeser. Gak punya visi.

Tapi kan itu menurut saya hahahahaha ... Serius amat yang baca. Ada sebuah cara jitu bagaimana mengukur Anda masuk kategori ini atau bukan. Kalau Anda dosen dan Anda emosi membaca tulisan saya ini, coba dipikirkan lagi, Anda masuk kategori ini atau bukan, kalau bukan ya jangan ngambek ... #CumaBilang

Tapi kalau Anda setuju, saya mengajak Anda sharing bagaimana gambaran Dosen Display dalam kehidupan Anda hehehehe ... Siapa tau bisa buat pencerahan buat saya atau malah jadi penelitian #lirikkanankiri ...

Senin, 20 April 2015

School Freak


Saking pengennya sekolah lagi, 
saya sampai pengen coba trial class drum di sebuah sekolah musik. 
Baru ingat kalau tangan dan kaki sering gak sinkron di usia menjelang 40 ini  ...

Saya memang suka banget sekolah. Waktu SD, di tengah pelajaran, perut saya sakit dan ibu guru menyuruh saya pulang. Saya pulang, dan ketika ibu saya membalurkan Vicks di perut dan sudah terasa agak enakan, saya minta balik lagi ke sekolah. Pernah pula, saya diikutsertakan dalam program cabut gigi bersama di sekolah. Selesai cabut gigi di dokter gigi, saya kembali ke sekolah sementara teman saya yang lain memilih pulang dengan kapas di mulut hahahaha ... Pada saat SD ini pula saya ikut kursus musik dan tari, sayang hanya berhenti di tengah jalan ...

Waktu SMP, saya ikut kelas menari Jawa, padahal saya tergolong tambun untuk mengenakan kemben Jawa, hihihi Masa SMA lebih ajib lagi, saya bersumpah tidak akan kehilangan 1 hari sekolah pun, dan selama 3 tahun berturut-turut saya tidak pernah absen, ijin atau pun sakit, hahahaha ...

Ketika tahu teman-teman saya ternyata sudah mengikuti kursus bahasa LIA yang beken di awal 90an, saya gak mau ketinggalan. Saya masuk LIA dan lulus hingga Advance Class usai. Tak cukup LIA, saya juga lulus dari ILP, hayyaaahh tidak hanya itu, ketika sesama teman kuliah membuka kesempatan kursus Bahasa Jepang Dasar, saya pun ikut serta dan lulus sampai Hiragana dan Katakana Class. Ini juga disertai kursus Bahasa Jepang yang dimentori orang Jepang asli yang juga mahasiswa BIPA UI ... Semua kegiatan itu beriringan dengan kuliah saya di Sosiologi UI. Saking sukanya sekolah, saya baru selesai program sarjana setelah 6,5 tahun, hahahaha ...

Lulus kuliah, hidup saya sungguh membosankan. Saya tak kunjung dapat pekerjaan. Kegiatan sehari-hari saya hanyalah mengajar di almamater saya. Itu pun hanya seminggu sekali atau dua kali. Akhirnya, saya putuskan mengikuti kelas motivasi Asia Works dan lulus dari program Basic, Advance dan Leadership Class, ampuuuunnn ...

Perjalanan sekolah saya sempat vakum cukup lama ketika saya mulai pacaran dan menikah. Beberapa tahun menikah, saya tidak lagi tahan. Saya kembali mengambil kursus Make Up Class di Martha Tilaar dan lulus Basic Make Up Artist dalam waktu 2 minggu. Di sela kegiatan mengajar, saya diterima di program non-degree dan bersiap dikirimkan ke Macau sehingga harus mengikuti kursus Bahasa Portugis. Ternyata, di tengah kursus, saya menerima kabar bahwa saya juga diterima di Pasca Sarjana Komunikasi UI. Dengan bahagia saya memilih menjalani program master saya dan lulus Cum Laude dalam tempo 2 tahun.

Setelah meraih gelar master, saya bekerja tetap sebagai dosen. Dua tahun menjadi dosen, tentu saja saya sangat merindukan sekolah. Tahun 2011, akhirnya saya kembali sekolah dan menjalani program doktoral. Saya meraih gelar doktor saya dalam kurun waktu 2 tahun 10 bulan dan mempersembahkan kembali gelar Cum Laude untuk orangtua saya. Tidak ada yang lebih membanggakan bagi saya, selain melihat ayah ibu saya bangga pada saya.

Saat ini, saya masih "lapar" sekolah dan sedang berpikir mengambil gelar S2 atau S3 atau postdoc kembali .... Semoga Alloh melancarkan niatan saya dengan memudahkan urusan finasial dan sebagainya melalui jalan apa saja hahahaha amiiiinnn ...

Sungguh ... Saya benar-benar cinta sekolah ... Masih kagak percaya ?

:D

Selasa, 16 Juli 2013

Jagoan Neon

Jagoan Neon ...

Sudah beberapa bulan ini saya stres luar biasa gara-gara urusan proposal. Walah, proposal yang isinya cuma latar belakang, teori dan metodologi aja bisa bikin pusing berbulan-bulan. Masih untung gak pendarahan seperti tempo hari ujian kualifikasi, hhhh ....

Saya mengalami braindead, frozen head, writer block atau apalah namanya itu. Gimana mau punya proposal kalau mau nulis apa aja gak tau. Saya menolak menjadi positif, menolak bertemu kawan-kawan, menolak pendekatan ke dosen, menolak diskusi, pokoknya menolak segalanya.Saya berteman dengan negative thinking, berteman dengan kemungkinan mundur kuliah, sepertinya lebih menjanjikan kebebasan ... Yang paling terkena dampak adalah mahasiswa-mahasiswa saya, terkena semprotan setiap saat, hahaha

Tapi, memang, kalau orang bijak bilang semua ada waktunya, ya semua ada waktunya. Saya stres luar biasa, ditambah jadwal deadline yang berubah-ubah gak jelas sampai 4x membuat saya makin drop. Akhirnya, ketika saya sudah menentukan jadwal deadline saya sendiri dan memantapkan hati, tetap saja ide untuk menulis tiada, hhhh ...

Sampai suatu hari, teman yang sudah menemukan kebebasan terlepas dari sidang proposal menelepon dan bla bla bla ... Sudahlah putuskan saja kembali ke ide jaman dahulu yang belum saya selesaikan. Saya seperti tersengat listrik, seperti ada aliran listrik menjalar dalam otak saya,

dan suami saya kemudian bersaksi 
bahwa ia melihat jagoan neon, hahahaha

Jagoan Neon adalah permen anak-anak era '80 - '90an. Jagoan Neon adalah permen sparkling yang berupa butiran, yang bila butir-butir itu diletakkan di lidah, maka kita akan merasa seperti ada sengatan-sengatan listrik muncul di lidah. Nah, itu yang dilihat suami saya ketika saya terima telepon dari sahabat saya itu ...

Selama 4 hari saya mengetik tidak berhenti, membongkar pasang kerangka berpikir. Dan 2 hari sebelum deadline, saya tidak tidur. Saya selalu mengetik hampir 12 jam setiap hari. Tangan saya jarem, keram, kejang, apa pun namanya itu. Ketika hari deadline tiba, suami saya bilang, saya pucat dan seperti zombie (mayat hidup). Mata cekung, muke beler, setun berat, hahahaha dan saya masih berjuang ke Salemba untuk mengumpulkan proposal ... Akhirnya proposal saya jadi. Seratus empat halaman. Legaaaa ... Alhamdulillah ...

Teman-teman saya takjub luar biasa. Baru minggu lalu, mereka melihat saya menggerung, meraung, melenguh (hahaha...) mau berhenti kuliah. Eh seminggu kemudian ngumpulin proposal. Kata suami saya, benar-benar Jagoan Neon, hahahahaha Kalau lampunya sudah On, gak bisa berhenti .... Teman saya bilang mesin diesel, panasnya lama. Gak papa deh, apa pun julukannya pokoknya ngumpulin proposal, hahahaha ....

Senang ... Moral of the story is ... When it's time, it's time, don't worry too much. Enjoy your drama for once is not a sin ... :D Semangattt ....

Senin, 01 April 2013

SAYA dan kamu ...

Saya ini berbeda .... Mungkin klise, tapi saya memang beda. Dari kecil pikiran saya sudah berbeda sendiri. Tahun 80-90an, saat teman-teman saya senang main ke luar, ke cafe, jalan-jalan ke diskotik, nonton bioskop, saya lebih suka ditemani novel bejibun sambil makan. Sukaaaa sekali ....

Saya ini berbeda .... di saat semua orang langsing, kecil, mungil, singset, dan lain-lain itu, saya ini gemuk, kribo dan suka makan ... Saya sudah terbiasa mendengar julukan buntelan kentut, gajah bengkak, sarang tawon, dan lain-lain ... 

Apakah saat itu, saya tahu dan sadar saya berbeda??? Tentu tidak ... Hampir 2/3 hidup saya, saya habiskan mencapai standar normal dunia. Hampir 2/3 hidup saya, saya habiskan mencapai berat badan ideal, meluruskan rambut, mencari kesamaan dan bersembunyi dalam keseragaman di dunia.

Apakah saya bahagia??? Tidak ... Saya langsing, tapi tak bahagia. Rambut saya lurus tapi saya tak bahagia. Bahagia saya semu. Saya sedih, tapi saya tidak tahu saya sedih. Saya pikir saya telah menyenangkan siapa saja dengan menjadi serupa dengan yang diinginkan dunia. Tapi ternyata saya tidak ...

Saya belajar ... Saya berkembang ... Saya berproses menjadi saya ... Saya bertemu orang lain yang mendukung saya menjadi saya kembali. Saya sudah hampir buta dengan saya yang mendunia, tapi itu bukan saya yang saya ...

Saya ... Siapa saya?? 
Saya ... Makhluk Tuhan paling berharga dalam hidup saya, hanyalah saya

Saya menjadi saya saja sudah cukup ... Ketika menjadi saya, saya bisa membagikan diri saya pada kamu, dan kamu sekalian. Sayalah yang kalian dapatkan. Bukan lagi boneka serupa saya yang selama ini kalian kenal. Saya telah menjadi saya. Saya bangga pada diri saya ... Teman-teman berguguran, teman-teman penyuka boneka saya kesal, saya bukan saya yang dulu, saya sombong, saya berkembang menjauhi saya yang mendunia.

Hanya kamu, kamu tempat saya mengadu dan berbagi. 
Kamu yang mengintip awalnya dan membuka pintu menyegerakan saya masuk ke hatimu yang nyaman mengenal saya. Saya bahagia ... Saya menjadi saya ...

Saya, seutuhnya ... bergerak menjadi lebih menyaya ... Ditinggalkan, dituduh, dibuang, dilempar karena tidak seperti saya yang dunia inginkan. Tapi saya punya kamu ... Kamu yang tahu saya ... 

Terima kasih membiarkan saya menjadi saya. Semoga bersama saya, kamu menemukan kamu pula ...

Menjadi berbeda butuh keberanian ...
Saya berbeda ... Lalu kenapa?? Saya bangga ...


*didedikasikan untuk kamu, yang selalu ada ketika mereka mencoba meniadakan saya ...

Senin, 18 Februari 2013

Tukang Bully ...

Apa sih bullying ???? Kata yang baru di dalam kamus kita tapi sebenarnya sudah lama ada di realitas kita. Jaman saya lebih dikenal dengan kata gencet, ngospek, dll. Tapi sebenarnya bully lebih dari itu. Ada bully yang kasar dan ada bully yang halus. Itu menurut saya lho, jangan dijadikan landasan ilmiah. Bully kasar ya yang tadi saya sebutkan, nggencet junior, ngospek anak baru, yg model gitu masuk kategori bully kasar. Yang menarik dibicarakan adalah bully halus, kalo bahasa jadulnya ngenyek abis, hahahaha

Gayanya sih terkesan sophisticated
tapi perilakunya dan bercandanya sungguh rendahan, 
tanpa logika dan cetek

Itu yang saya sebut ciri-ciri tukang bully sejati. Pendidikan boleh tinggi, tapi pemikiran tetap gak ketolong, masih kalah sama pemikiran ponakan saya yang berusia 9 tahun. Jangankan mengandalkan pendidikan, mengandalkan etika saja payah total. Jadi, menurut saya tukang bully itu selalu berusaha menyembunyikan 'kerendahan'nya itu dengan perilaku dan image yang tampak seolah-olah sempurna, pakaian dan penampilan excellent plus gelar berderet atau posisi keren di sekolah, kampus, kantor, bahkan di dunia politik. Tapi seperti pepatah mengatakan, "sebaik-baiknya ikan busuk disimpan, baunya akan tercium juga" ... Jadi, sebaik-baiknya tukang bully, tetep ketahuan selera humor dan akademisnya produk rendahan.

Bagaimana bentuk dari bully halus?? 

Bully halus bersembunyi dalam humor, candaan dan celetukan yang seakan-akan mengandung kelucuan, namun di dalamnya mengandung makna dalam akan tindakan iri hati, dengki dan menjatuhkan pihak lain. Tak hanya itu, pihak lain yang dimaksud pun merasakan hal tersebut. Yang sangat lucu, kelucuan yang membungkus ternyata tidak lucu, karena alih-alih membuat orang tertawa malah membuat orang lain sakit hati atau tidak nyaman. Itulah bullying dan itulah cara si tukang bully beraksi.

Nah, orang model begini tidak akan pernah ... catat dua kali ... TIDAK AKAN PERNAH sadar atau tahu dirinya tukang bully bila tidak ada pihak lain yang memberi informasi. Bahkan, tukang bully sejati akan merasa ingin membully orang yang memberi info itu padanya. Intinya, si tukang bully tidak akan terima bahwa dirinya adalah tukang bully dan akan berusaha keras membully siapa pun yang mengatakan dia sebagai tukang bully. Ini bagus sekali, karena si tukang bully semakin membuka kedoknya sendiri dan tidak dapat mengontrol dirinya untuk semakin menunjukkan bahwa dia adalah tukang bully sejati. Jadi, kegiatan ini harus dilakukan secara langsung atau diwacanakan melalui pihak ketiga.

Bila kita sadar sepenuhnya yang dilakukan oleh si tukang bully, maka kita akan tertawa bahagia ketika si tukang bully kemudian membuka kedoknya sendiri. 

Bagaimana cara menghadapi si tukang bully?? Sungguh mudah, seperti juga menghadapi pesakitan lainnya, yang bisa dilakukan oleh orang awam seperti kita (yg bukan para ahli kejiwaan), adalah tidak menanggapi bullying yang dilakukan, tidak menganggap sejajar tukang bully (karena jelas lebih rendah dari kita) dan berperilaku lebih baik serta lebih beretika, karena hal yang tidak dimiliki si tukang bully adalah moral dan etika. Dengan beretika dan bermoral, jelas si tukang bully tidak akan berhasil menembus benteng pertahanan kita dengan etika dan moral wanna be yang dia junjung tinggi.

Jadi, di dalam hidup yang sehat, terdapat perilaku saling hormat-menghormati terhadap sesama yang sehat. So, fun life only happens when bullying is not on the menu ... Have a fun life ev'rybody ... 

*tulisan ini adalah sharing kecil agar semua pembaca waspada dengan sosok para tukang bully yang bersembunyi di balik topeng-topeng kehormatan. Semoga bermanfaat !!!

Selasa, 29 Januari 2013

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa - Akademisi Genit

Guru ... Pahlawan tanpa tanda jasa ...

Apakah masih pantas ???

Sungguh menyedihkan perlakuan pendidik dan terhadap pendidik dewasa ini. Komodifikasi dalam hal apapun telah merusak guru. Industri pendidikan sungguh menyedihkan. Tidak perlulah membahas kode etik akademis, jika di antara para akademisi saja memahami kode etik saja sudah terbingkai oleh kapitalis.
Sungguh sedih ... 
para akademisi genit yang berhias pupur ... melacurkan diri mencari pelanggan memakai jasanya. Masihkah institusi pendidikan ada???? Institusi pendidikan, tonggak integritas, kemanakah larinya???

Sungguh sedih ... 
ketika ilmu telah diperjualbelikan. Ilmu yang karya kerja manusia, menjadi ilmu yang direndahkan, ilmu tanpa martabat bertebaran dimana-mana.


Sungguh sedih ... 
pahlawan tanpa tanda jasa, hanya menjadi sapi perahan ... saling mencerca satu dengan lainnya ... lupa terikat kode etik menghormati ilmu lainnya


Akademisi genit tertawa bangga ... 
bangga dengan keturunannya telah mengabdi pada kapitalis, bangga telah mencetak buruh pemuja kapitalis, bangga telah menyebarkan paham kapitalis ... bangga menjadi pahlawan palsu


Wahai akademisi genit ...  di balik pupur tebalmu, kau tak lain hanyalah seorang budak ... 
Masihkah pahlawan tanpa tanda jasa pantas disematkan di dadamu??

Wahai penghancur masa depan bangsa

Untuk para akademisi genit, yang merendahkan akademisi lainnya, yang merendahkan ilmu dan kerja manusia, merendahkan kehidupan, yang bersembunyi di balik gelar tak berkesudahan dan singgasana institusi pendidikan .... Pandangan hina dilemparkan pada anda yang terbuai dengan kesadaran palsu kuasa ...

Marah nih yeeeeeeeee ....... Hahahahahahahha ... Just have a fun life ev'rybody ... Being angry is wonderful sometimes ... Feel it and be alive ... 

Sabtu, 26 Januari 2013

Magic Words ...

TOLONG, MAAF, TERIMA KASIH

Tiga kata ajaib yang menunjukkan integritas seseorang bila diucapkan dengan seyakin-yakinnya diri



: D