Selasa, 29 Januari 2013

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa - Akademisi Genit

Guru ... Pahlawan tanpa tanda jasa ...

Apakah masih pantas ???

Sungguh menyedihkan perlakuan pendidik dan terhadap pendidik dewasa ini. Komodifikasi dalam hal apapun telah merusak guru. Industri pendidikan sungguh menyedihkan. Tidak perlulah membahas kode etik akademis, jika di antara para akademisi saja memahami kode etik saja sudah terbingkai oleh kapitalis.
Sungguh sedih ... 
para akademisi genit yang berhias pupur ... melacurkan diri mencari pelanggan memakai jasanya. Masihkah institusi pendidikan ada???? Institusi pendidikan, tonggak integritas, kemanakah larinya???

Sungguh sedih ... 
ketika ilmu telah diperjualbelikan. Ilmu yang karya kerja manusia, menjadi ilmu yang direndahkan, ilmu tanpa martabat bertebaran dimana-mana.


Sungguh sedih ... 
pahlawan tanpa tanda jasa, hanya menjadi sapi perahan ... saling mencerca satu dengan lainnya ... lupa terikat kode etik menghormati ilmu lainnya


Akademisi genit tertawa bangga ... 
bangga dengan keturunannya telah mengabdi pada kapitalis, bangga telah mencetak buruh pemuja kapitalis, bangga telah menyebarkan paham kapitalis ... bangga menjadi pahlawan palsu


Wahai akademisi genit ...  di balik pupur tebalmu, kau tak lain hanyalah seorang budak ... 
Masihkah pahlawan tanpa tanda jasa pantas disematkan di dadamu??

Wahai penghancur masa depan bangsa

Untuk para akademisi genit, yang merendahkan akademisi lainnya, yang merendahkan ilmu dan kerja manusia, merendahkan kehidupan, yang bersembunyi di balik gelar tak berkesudahan dan singgasana institusi pendidikan .... Pandangan hina dilemparkan pada anda yang terbuai dengan kesadaran palsu kuasa ...

Marah nih yeeeeeeeee ....... Hahahahahahahha ... Just have a fun life ev'rybody ... Being angry is wonderful sometimes ... Feel it and be alive ... 

Sabtu, 26 Januari 2013

Magic Words ...

TOLONG, MAAF, TERIMA KASIH

Tiga kata ajaib yang menunjukkan integritas seseorang bila diucapkan dengan seyakin-yakinnya diri



: D

BERSERAH ... MENYERAH ... TERSERAH ...

Pasrah dan berserah seperti kata orang-orang tua itu sungguh-sungguh menarik ... Sudah sejak remaja saya tergelitik berat sama yang namanya berserah alias pasrah ini. Sungguh ... Bila terkena musibah, kita diminta berserah, bila nilai jelek, berserah, bila gak dapet yang kita mau, berserah, bila gak sesuai rencana, berserah ... Sungguh menarik ... 

Saya perhatikan, walaupun seringkali diucapkan, orang nampaknya sulit sekali berserah, termasuk saya. Dulu pepatah paling saya ingat sejak SD adalah "Sesal Kemudian Tak Berguna". Pepatah itulah yang menjadikan saya perencana paling detil, sedetil-detilnya ... Saya takut sekali salah, saya takut sekali menyesal. Namun semakin percaya pepatah tersebut, semakin penyesalan hadir dalam keseharian saya.

Hidup saya sungguh lucu, menurut saya. Saya dihadapkan pada situasi menikahi seorang manusia yang jarang menyesal, gak pernah malah seingat saya. Sungguh-sungguh bertolak belakang dengan saya yang perencana ini. Suami saya, adalah guru berserah saya. Saya tidak pernah melakukan berserah sehebat dia, tapi saya belajar banyak.

Masa sepanjang hidup saya memperlihatkan, orang (termasuk saya) mengungkapkan kata berserah, pasrah, nrimo dan lain-lain, namun tidak percaya pada diri mereka apakah mereka bisa melakukannya. Karena berserah artinya telah mengusahakan semaksimal mungkin lalu berhenti berusaha dan menyerahkan pada si Empunya kehidupan untuk memutuskan hasilnya. Berserah adalah mempercayai qodarNya. Menjadi sulit karena manusia selalu berusaha menghindari misteri kehidupan. Manusia selalu tergoda untuk mencari kepastian. Dan berserah, melawan segala bentuk kemanusiaan. Berserah adalah godaan terbesar manusia sebagai pembuat keputusan atas dirinya. Berserah adalah cobaan manusia karena menyerahkan misteri kehidupan untuk diungkap oleh selain dirinya.

Berserah ....

Jodoh mati rejeki ada di tangan Penguasa Kehidupan. Jodoh mati rejeki adalah milik Alloh. Bahkan orang-orang beriman telah berulang kali mengucapkannya dan masih pula tidak mempercayainya. 

Saya dan suami bahu-membahu membayar uang kuliah kami di jenjang S2 dan S3 saat ini. Kami selalu hanya punya dana untuk biaya pendaftaran dan biaya untuk semester pertama. Tidak pernah menyiapkan dana untuk semester berikut-berikutnya. Sejak awal kuliah, perkataan suami saya adalah, "Bila Alloh mempermudah kita mendaftar kuliah ini sejak hari pertama, maka kuliah ini adalah jalan hidup kita selanjutnya dan Dia akan mencukupinya". Saya, tentu saja saat itu  hanya mengiyakan namun lebih percaya bahwa saya bisa mendaftar karena hasil ujian saya baik, CV saya bagus dan saya melengkapi segala persyaratan. Ketika dihadapkan pada bayaran semester-semester selanjutnya, saya sungguh stres luar biasa. Segala yang kami miliki, mobil, tabungan, simpanan, hingga mas kawin sudah menjadi bagian dari dana pendidikan kami. Tapi suami saya tetap percaya bahwa Tuhan akan mencukupi dengan jalanNya yang sekonyong-konyong. Banyak sekali sudah bukti keajaiban itu menghampiri hidup kami, dan sungguh luar biasa.

Saya masih ingat momen melepas cincin kawin kami untuk biaya pendidikan semester terakhir suami saya di S2. Sungguh luar biasa karena kami membutuhkan dana Rp 3 juta, sementara harga cincin kawin kami setelah ditakar hanya mencapai Rp 2,7 juta. Saya saking sedihnya melepas cincin kawin pilihan kami itu, tidak mau ikut ke toko emas dan hanya menunggu di sebuah foodcourt. Tapi kemudian suami saya datang dengan berseri-seri dengan cerita yang luar biasa.

Awal minggu itu kami sudah kehabisan simpanan. Bahkan untuk makan saja, kami mengandalkan beras sisa dan indomie sebungkus. Pernah saking membutuhkan dana untuk sekolah, kami rela makan sepiring nasi berdua dengan kuah indomie banyak-banyak, hahahahaha senang. Karena itu prioritas kami jelas, uang tersisa hanya untuk hal-hal penting. Hari itu suami saya sudah kegerahan ingin sekali memotong rambutnya, tapi harga termurah adalah Rp 8rb, sementara dengan uang segitu lebih baik kita beli indomie 2 bungkus, hmmm ... dilema. Akhirnya saya memberanikan diri mencukur rambutnya. Untuk pertama kali saya jadi tukang cukur, dan hasilnya sungguh luar biasa. Suami saya nampak 15 tahun lebih muda, jadi kayak anak SMP, hahaha kasihan. Namun ternyata berkat potongan rambut itulah cerita ini jadi luar biasa.

Ketika akan menjual cincin kawin kami, dia sudah berkeliling beberapa toko emas di Melawai, namun harga yang ditawarkan hanya Rp 2,4 juta hingga Rp 2,7 juta. Padahal kami butuh Rp 3 juta untuk semester terakhir ini. Tiba di sebuah toko emas terakhir, si uda pemilik toko memandang suami saya dalam-dalam dan bertanya, "Ini keponakan dari Menteng ya, anak si A?", suami saya menjawab, "bukan pak, saya bukan orang Padang". Si uda kemudian berujar lagi, "Ah masa sih, potongan rambutnya mirip sekali (ha????). Iya ah, kau ini pasti anak si uda Menteng (sambil memanggil bawahannya) ... Sudah kasih saja Rp 3 juta itu cincinnya. Ini saya juga ada siomay buat kamu. Salam ya untuk si A". Suami saya berkeras bahwa ia tidak mengenal bapak A dan ia bukan orang yang dimaksud, tapi si uda sudah memaksa. Jadilah suami saya berseri-seri menghampiri saya di foodcourt dengan membawa Rp 3 juta dan tambahan siomay, hahahaha ... 

Pernah pula kami sangat amat membutuhkan uang untuk makan minggu itu, dan saya minta suami saya untuk berdoa banyak-banyak ketika sholat Jum'at. Sepulang sholat Jum'at, suami saya berjalan kaki untuk menemui saya di tempat mengajar. Di perjalanan, ketika ada angin lewat, tiba-tiba ada uang Rp 200rb mendarat di kakinya. Kaget luar biasa, suami saya celingukan, dan memutuskan menunggu 15 menit, takut ada orang naik motor dan uang tsb terjatuh ketika lewat tadi. Setelah hampir 30 menit ditunggu, tidak ada yang datang dan lewat. Jadilah, kami hari itu mendapat rejeki untuk makan seminggu, hahahahaha

Suatu hari suami saya menunggu temannya mengambil motor di lobi pertokoan. Di sebelahnya ada seorang ibu membawa koper kecil, dan sibuk menelepon kesana kemari. Suatu ketika, si ibu sambil menelepon menaruh kopernya dan memanggil taksi dan terburu-buru menaiki taksi tersebut. Koper ditinggal. Suami saya berteriak-teriak memanggil si ibu tapi taksi telah melesat pergi. Suami saya minta ijin pada satpam untuk mengejar dengan ojek. Satpam tidak berani membuka koper dan mengiyakan. Sambil menunggu ojek, suami saya mengintip koper yang ternyata berisi berpuluh-puluh ikat uang ratusan ribu bergebok-gebok. Sepertinya ada beberapa ratus juta rupiah dalam koper tersebut. Begitu ojek datang, suami saya langsung kebut mengejar taksi. Taksi melihat dikejar ojek semakin kencang. Akhirnya suami saya berusaha keras mengetuk jendela si ibu, minimal mendapat perhatiannya. Awalnya si ibu tidak mengerti dan ketakutan, tapi suami saya menunjukkan kopernya, barulah ia minggir. Tanpa membuka isi koper si ibu berkali-kali mengucapkan terima kasih. Oh andainya segepok hilang, toh tidak kentara, hahahahaha tapi suami saya mengembalikan semuanya. Si ibu merogoh dompet dan mengeluarkan 2 buah tiket nonton Spiderman, dan jadilah siang itu saya dan suami duduk manis di bioskop, hahahahahaha .... Rejeki dan sekali lagi Alloh yang mengatur.

Dan masih banyak lagi keajaiban lainnya ... nanti saya buatkan bukunya ....

Peristiwa-peristiwa itulah yang membuat saya meyakini apa yang dinamakan berserah seyakin-yakinnya. Hanya Dialah yang mengatur dan menjadikan apa pun itu. Kita hanya berusaha, benar, tapi kita tidak punya kuasa atas hasil.

Cobaan terberat manusia adalah kesombongan atas hasil.
 Lupa bahwa ada Dia-lah satu-satunya yang berhak atas hasil akhir. 

Peristiwa-peristiwa itulah, yang membuat saya menyadari keajaiban-keajaiban dalam hidup saya.

Hingga saat ini, berserah adalah senjata saya. Sulit ... Namun, berserah membuat hidup nampak mudah dan membahagiakan. Berserah membuat hidup penuh syukur, dan syukur adalah nikmat.

Semoga kita semua termasuk kaum yang senang bersyukur. Amin






Senin, 12 November 2012

Golden Rules : Aturan Emas

Seorang teman meraung-raung, merasa gak diperhatikan, merasa tidak dihargai, tidak ada yang mau berempati dengan masalahnya, sedih, merasa ditinggal, dia sangat menderita menjadi korban dunia yang kejam ini. Teman-teman meninggalkannya, sedih sekali ...

Benarkah begitu ....

Well, saya ini adalah penganut Golden Rule ketat ... Sudah tau Golden Rule khan??

"Treat Others as You Want to be Treated" - Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.

Dalam kalimat tersebut ada makna yang sangat dalam lainnya, buat saya, makna tersebut adalah: bagaimana orang lain memperlakukan anda saat ini adalah hasil dari perlakuan anda pada orang lain pula. Jadi dalam kasus teman saya di atas, ketika dia bingung merasa "jatuh" seperti di atas, apakah pernah terpikir olehnya, mungkin saja ia ikut andil dalam "kejatuhannya" tersebut.

Golden Rule ini sangat berlaku dalam hidup saya dan suami saya. Suami saya adalah penganut Golden Rule yang taat, hahahaha ... tapi menurut saya lho. Orangnya memang baik sekali dan anehnya, orang memang baik padanya.

Dia percaya sekali bahwa segala hal di muka bumi ini sudah diatur oleh si Empunya Dunia, jadi kita gak perlu ribet dan pusing memikirkan hal-hal yang gak penting itu. Jalani hidup saja dan nikmati, berbuat baiklah dan nikmati hasilnya. Saya malah tipe yang pesimis awalnya, tapi menilik jalan hidupnya, kok memang rejeki dia itu sungguh mencengangkan.

Kalau saya katakan rejeki sungguh mencengangkan, jangan bayangkan kami penuh uang dan harta melimpah. Itu mah urusan dunia yang sungguh basi, dan gak penting. Kesuksesan diukur dari jumlah harta wah gak matching sama suami saya. Sukses buat dia adalah diingat sebagai orang baik, tapi itu pun tidak perlu diusahakan, karena jalani hidup aja dengan baik, maka kita jadi orang baik kok.

Kami hanya keluarga sederhana yang berharap setiap hari bisa menjalani hidup dengan tenang hari itu saja sudah alhamdulillah, jadi sungguh tidak neko-neko. Tuhan selalu menyediakan apa pun untuk kami. Suatu hari saya ingin sekali makan pizza, namun karena itu adalah kemewahan saat itu untuk kami, maka saya cuma bisa ngiler saja lihat fotonya, tapi tentu saja, dengan cengiran khasnya, suami saya pulang membawa 2 loyang pizza ukuran besar, buah tangan dari berbuat baik menolong orang katanya. Begitu pula dengan berbox-box ayam KFC yang rutin hadir, serta berkilo-kilo pempek dan bakso pengasihan siapa pun yang pernah ditolongnya. Tabiat menolong orang itu juga menghasilkan suami saya pulang membawa 2 pasang sepatu baru berharga ratusan ribu. Sudah beberapa tahun ini, dia juga tidak pernah beli baju baru dan HP baru karena semua hadiah. TV, Printer, bahkan uang 200rb pun melayang di kakinya suatu hari tanpa tahu darimana berasal dan harus dikembalikan kemana. Wah, kalo dihitung, sudah gak tau berapa banyak cerita ajaib itu. Silahkan tanya sahabat-2 saya ... saya aja suka pusing mengingatnya. Saya pikir cuma ada di film atau novel, hahahaha ...

Berbuat baik akan menghasilkan pertolongan bagi kita. Menurut saya bukan isapan jempol. Itu terbukti nyata, minimal dalam hidup kami yang sederhana ini. Golden Rule berlaku dalam hidup kami.

Jadi, bagaimana keadaanmu saat ini wahai kawan sekalian?? Happy? Lonely? Take your time to think, what've you done lately? It might surprise you when you see it as a full-circle ...

Enjoy and have a fun life ...




Rabu, 03 Oktober 2012

Akademisi ??? Intelektual ??? HAH !!!

Hobi saya memang sekolah, tapi tahukah Anda bahwa bersekolah itu tidak bisa hanya sekedar lulus. Ternyata dalam ilmu yang lebih banyak terdapat tanggung jawab yang juga lebih besar.

Tulisan saya sebelumnya sebenarnya adalah tulisan egois karena kesal kenapa memilih sekolah sebagai hobi tidak bisa semudah hobi koleksi perangko misalnya ... Konsekuensi memiliki pengetahuan lebih banyak karena bersekolah membawa tanggung jawab yg juga besar. Sebutan kaum akademisi itu sungguh berat. Pilihan hidup yang sulit ... Mau jadi hobi terus tutup mata ya kok aneh juga ...

Sudah lama saya tahu bahwa kaum akademisi punya tanggung jawab besar dalam hajat hidup orang banyak, terutama soal kemanusiaan. 



Kemarin saya diingatkan kembali bahwa dalam banyak pemikiran, kaum akademisi menjadi tumpuan harapan dalam kehidupan sosial. Kita ambil saja pemikiran Marxisme misalnya. Pemikiran Marxisme bersumber pada pemikiran Marx dalam banyak hal. Meskipun begitu ada beberapa perbedaan. Bila Marx mengatakan dalam sejarah perjuangan masyarakat manusia, terdapat 2 kelas yg terus berkonflik (borjuis dan proletar), maka dalam pemikiran Marxisme, selain 2 kelas tersebut, terdapat sebuah kelas menengah yang disebut Gramsci sebagai kelas intelegensia, yaitu kaum akademisi.

Dalam perjuangan buruh yang tiada akhir, maka ramalan Marx menyatakan bahwa suatu hari buruh akan menang melawan jeratan borjuis dan kapitalis dalam sebuah revolusi. Namun, dalam pemikiran Gramsci, perjuangan buruh tersebut tidak akan menjadi revolusi bila hanya mengandalkan ekonomi, namun juga harus dibantu dan didukung oleh kelas intelegensia. Kaum akademisi inilah yang memiliki kapital budaya, yaitu akses pada ilmu pengetahuan untuk menyebarkan kesadaran kelas dan menghajar kesadaran palsu yang selama ini disebarkan dan disosialisasikan oleh kapitalis. Ini cuma 1 pemikiran. Walaupun kemudian Adorno pesimis dengan harapan yang dinyatakan Gramsci, namun itu lain soal.

Jadi dengan memilih hobi sekolah, terutama sekolah hingga jenjang S3 sekarang ini, mau tak mau saya juga harus memikirkan mengenai beban moral yang harus saya tanggung itu. Saya sendiri bukan tipe pejuang lapangan yang turun ke jalan utk menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Saya dan suami saya sepakat itu bukan panggilan kami. Saya juga bukan pekerja sosial yang bisa dengan mudah bersentuhan dengan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan sukarelawan dan kegiatan sosial kemanusiaan. Namun demikian, pernyataan ini bukannya tanpa proses melalui itu semua. Kalo urusan menjadi sukarelawan dan pekerja sosial, wah saya sudah jatuh bangun rasanya. Saya sudah berkali-kali mendedikasikan diri untuk berbagi dengan anak-anak Panti Asuhan, orangtua di Panti Jompo, bahkan menjadi pekerja sosial selama 3 bulan di Panti Tuna Grahita (yang lebih hebat lagi, kebanyakan dilakukan sendirian tanpa teman-2 saya, hahahaha). Apalagi, saya sudah sering ikut ini itu atas nama berbagi, memang menyenangkan tapi kok saya tidak tenang dan tidak puas ya, saya merasa bukan itu panggilan saya.

Berbeda dengan mengajar, mau gak dibayar, mau cuma sebentar, mau sengaja tidak sengaja, saya suka mengajar. Mengajar membuat saya bahagia, berbagi dengan orang lain yang menyenangkan. Saya cinta sekali mengajar. Nah, mungkin itulah panggilan saya (Kalo kata sahabat saya, Yanti, drama Virgo, wheww ...) Jadi ilmu yang saya dapat dari hobi sekolah saya itu bisa disharing dan dapat menumbuhkan rasa kemanusiaan mendalam pada anak didik. Tapi kan mengajar tidak hanya mengajar, mengajar punya konsekuensi mendidik pula.

Mengajar saja dengan mudah dapat dilakukan, tapi konsekuensi mendidik itu yang berat. Mendidik berkaitan erat dengan integritas. Seorang pendidik harus menjaga martabat dan integritasnya. Bila itu hilang dari seorang pendidik, saya tidak heran banyak kasus yang memperlihatkan profesi pengajar jauh dari unsur mendidik. Menjadi pendidik, maka Anda harus memikirkan masak-masak segala tindakan dan konsekuensi tindakan Anda pada anak didik di kemudian hari. Jadi, bila para pengajar tidak memikirkan hal itu, maka sebaiknya mari merenung tentang apa sebenarnya panggilannya di dunia. Yang pasti bukan sebagai pendidik. Itu hanya sekedar pekerjaan, bukan panggilan dan pengabdian.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya akan berbagi dalam panggilan saya sebagai pengajar dan pendidik. Terserah orang bilang saya seharusnya bisa lebih aktif dalam ini itu, ikut sukarelawan, ikut kegiatan amal, ini itu, tapi buat apa bila untuk menyenangkan orang lain. Yang tahu kapan saya bahagia adalah saya. Jadi sayalah diri saya. Hobi sekolah yang menyenangkan saya, harus menerima konsekuensi, yaitu berbagi ilmu. Hobi sekolah tidak akan membuat saya berhenti belajar, tapi juga saya harus menerima bahwa saya pun tidak boleh berhenti berbagi ...  :D

Kalau kata Gramsci, apakah kita ini Intelektual Tradisional atau Intelektual Organis? saya rasa berbagi tanpa memikirkan yang mana yang mendefinisikan diri kita lebih baik dibandingkan mengategori diri dalam sebuah kelompok namun terbebani dengan definisi itu sendiri. Halah ... makin stres ...

Buat yang baca, kok mau sih baca blog saya. Kalian ini aneh-2 saja ... isinya ngawur dan sudah pasti saya larang utk dijadikan referensi ilmiah, hahahahahahahahaha

Have a fun life ev'rybody ... Do what you wanna do and be happy with it ... Don't do it for others apalagi if you do it because you have to please others ... No, we shall be happy first to make others happy ... 

Percaya deh sama saya, hidup menyenangkan orang lain adalah palsu, namun hidup bahagia dan berbagi kebahagiaan itulah yang membuat orang lain juga merasakan bahagia dalam diri mereka ...

Sekali lagi ... Have a fun life ....

Minggu, 30 September 2012

Hobi Saya : Sekolah ...

Kemarin sahabat saya, Kiki datang ke kos. Curhat panjang tentang sekolah dan persiapannya ... Dalam perjalanannya menempuh pendidikan S3, Kiki bertemu orang-orang yang dia anggap 'determined' dengan sekolahnya. Ada yang bilang bahwa cita-citanya sekolah adalah bikin buku yang akan membantu anak-anak belajar Matematika dengan lebih mudah. Ada yang bilang pengen bikin LSM untuk membantu masyarakat dan ada yang akan mengembangkan sistem demi kemajuan masyarakat. Pokoknya semua cita-cita yang Kiki dengar bikin dia merinding disko. Lalu mikir ...

Nah, dalam proses mikir itulah Kiki bertemu dengan saya. Kami diskusi. Emang apa tujuan kita sekolah ... Mikir ... (kegiatan yg bikin males) ... Dalam proses merajut pikiran tiada ujung, kami sepakat bahwa tujuan kami adalah sekolah itu sendiri. Kebetulan kami berdua, walaupun secara pribadi jauh banget dari mirip, namun punya hobi sama, yaitu sekolah. Sekolah membuat kami tergila-gila. Kami tidak peduli apakah di sekolah itu kami akan menjadi anak pintar atau bodoh, yang penting, kami bisa sekolah saja sudah alhamdulillah ... Ternyata eh ternyata, sekolah membawa konsekuensi yang gak gampang.

Saya jadi ingat ketika saya diwawancara dalam seleksi masuk sekolah. Dalam pemikiran si pewawancara (ini dugaan saya) bahwa tujuan saya bersekolah sebenarnya bukan tujuan utama, ada tujuan lain di balik itu yang dengan sekolah maka tujuan itu akan saya capai. Apakah kenaikan pangkat, kenaikan gaji, dll. Ohya??? Anda Salah Besar Prof ... saya tidak peduli dengan kelulusan, saya cuma ingin sekolah ... Jadilah semua jawaban saya dimentahkan. Sampe jawaban andalan saya terakhir 'ingin menyenangkan orangtua' pun tak diterima. Bingung juga saya. Yang ditanya saya kenapa kok jawaban dia yang kudu benar. Aneh ...

Aniwei, kembali ke obrolan saya dan Kiki, kami sepakat bahwa kami suka sekolah. Terlepas dari keuntungan maupun kerugian yang akan kami peroleh sebagai konsekuensi dari bersekolah, so be it, kami suka sekolah. Sekolah itu passion, sekolah itu hidup kami. Sekolah adalah air dalam kehausan yang dalam. Kami cinta sekolah. Hobi kami adalah sekolah (mahal amat hobi lo Mon ...).

Kiki bilang kita tidak perlu pintar atau menjadi pintar dengan bersekolah. Kita cuma perlu tekun, ulet dan yakin, bahwa ini yang kita suka dan insya Alloh dengan izin Alloh akan bermanfaat buat kita dan sekeliling kita. Terserahlah apa anggapan orang. Orang bilang kalau kami berdua ini lebih determined dan punya target-2 pencapaian dengan sekolah kami, maka kami mungkin sudah di atas langit kesuskesan. Tapi, bukan itu yang kami inginkan ... Kami tidak peduli dengan apapun yang (di mata orang) membuat kami tampak sukses, pintar, keren, tajir dengan sekolah. Kami cuma ingin ada di sekolah, diberi tugas-2 yang membuat kami bisa membaca, membuat tugas dan menjadi lebih tahu. Kami tidak terganggu dengan kepayahan yang disebut orang. Orang bilang sayang banget otaknya tidak digunakan untuk mencapai kepintaran dan kesuksesan. Kami tidak peduli. Seperti juga pada pasangan yang kami cintai, maka kami menerima sekolah apa adanya ...

Nampaknya makin gak jelas. Tapi emang gue pikirin. blog-2 gue eni .... Jadi kalau ada lulusan S3 dan orang membandingkan kami dengan mereka dan mengatakan bahwa kami bisa seperti mereka kalau kami lebih berusaha dan determined, maka saya akan bilang, trus gue mesti gangnam style gituh ... Ngerti gak sih, bahwa sekolah itu cuma hobi buat kami, dan seperti juga yg hobi mancing atau nyanyi, gak perlu juga sampe menang Idol kali buat melakukannya. Cape deee ...

*tulisan ini ditulis dalam keadaan sangat kesal dengan tuntutan masyarakat pada kaum yang dikelompokkan sbg kaum intelektual (padahal kenyataannya, yg dikatakan intelektual gak ngerasa intelek, cuma ngerasa lagi ngerjain prakarya. Kebetulan aja prakaryanya sekolah S3) ...

Rabu, 13 Juni 2012

Drop dan Harapan ...

Seorang teman baik drop. Hidupnya berantakan dan tak lagi indah ketika merasa semua teman dan sahabatnya ditimpa musibah (bukan dia lho ...). Ia merasa segala musibah pun akan dialaminya, jadi buat apa hidup susah, sekolah dan berinvestasi dengan berbagai rencana, kalau akhirnya akan sirna ketika saatnya tiba. Kondisinya, saya namakan drop alias jatuh tuh tuh ... semangat dan gairah hidup sedang drop drop drop ...

Saya kemudian mengingat-ingat, masa-masa dimana saya drop. Lucunya tulisan "Mau Mewek ..." yang kemarin saya posting, adalah kondisi dimana hidup saya penuh semangat dan menyenangkan, karena saya masih bisa merasa mau mewek ... Lalu bagaimanakah kondisi drop. Saya rasa, drop adalah sebuah kondisi yang lebih "mengerikan" dimana tiada harapan akan masa depan, dan rasanya "tidak hidup", seperti zombi jalan gitu ... lebay!!

Baiklah, jadi menurut saya:

Drop itu ... adalah ketika saya tahu kehamilan saya tidak berkembang dan jabang bayi di dalam rahim saya sudah tiada

Drop itu ... adalah ketika lagi-lagi saya tahu kehamilan kedua saya tidak berkembang dan jabang bayi kami lagi-lagi dipilih Tuhan untuk menemaninya di sana

Drop itu ... ketika dokter mendiagnosa saya sebagai penderita darah kental dan tidak dapat disembuhkan

Drop itu ... adalah ketika rumah 2 lantai yang kami tinggali, terbakar habis

Drop itu ... adalah ketika saya melihat mas kawin saya, kumpulan hadits Bukhori dari suami saya, ludes terbakar api

Drop itu ... adalah ketika saya lihat 4 rak buku-buku yang saya dan suami kumpulkan habis dilalap api

Drop itu ... adalah ketika semua foto perkawinan, hadiah perkawinan, dan semua yg berhubungan dengan memori perkawinan saya hilang lenyap bersama lantai 2 rumah

Drop itu ... adalah ketika semua kumpulan kaset seumur hidup, kumpulan novel seumur hidup dan semua kumpulan-kumpulan hidup saya hilang bersama asap api hitam

Drop itu ... adalah ketika saya merelakan perhiasan mas kawin saya dijual ke toko mas untuk bayar kuliah suami saya

Drop itu ... adalah ketika tidak tahu bagaimana makan besok karena tiada sepeser pun uang

Drop itu ... adalah ketika kami berharap bantuan tapi tiada jawaban

Drop itu ... adalah ketika saya tahu saya tidak mungkin melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya

dan semua drop-drop lain dalam hidup yang saya tidak ingat ....

Tapiiiii .... , seperti habis gelap terbitlah terang, rangkaian kehidupan setelah drop, selalu menerbitkan harapan ...

Harapan itu ... adalah ketika hubungan saya dan suami menjadi lebih kuat dengan kepergian buah hati kami

Harapan itu ... adalah ketika saya tahu obat darah kental adalah cukup minum aspirin yg murah meriah secara rutin

Harapan itu ... adalah perasaan ikhlas pada segala kejadian

Harapan itu ... adalah ketika semua sahabat, teman dan kerabat men-support hidup kami setelah kebakaran

Harapan itu ... adalah berkat support dari para handai taulan kami bisa beli buku lagi

Harapan itu ... adalah karena kebakaran saya bisa lanjut sekolah lagi

Harapan itu ... adalah ketika tidak tahu lagi besok makan apa, tiba-tiba dengan berseri Ibbor pulang bawa 2 loyang pizza hut pemberian orang

Harapan itu ... adalah ketika kelaparan, Ibbor pulang bawa sekeranjang ayam KFC karena KFC memberi 7 ayam utk yg berulang tahun hari itu

Harapan itu ... adalah ketika kami sedang drop-dropnya, tiba-tiba Ibbor pulang bawa sepatu Skechers 2 pasang utk suami istri pemberian temannya

Harapan itu ... adalah ketika kami menjual perhiasan mas kawin terakhir, si penjual menaikkan harganya dan memberi hadiah siomay kesukaan saya karena dia ngotot Ibbor adalah saudara jauhnya berkat rambut Ibbor yang, karena saking gak punya uang baru saya cukur sendiri awal minggu itu, "rambutnya mirip sama saudara Menteng", katanya ...  (lha, si uda orang Padang dan Ibbor Menado Jawa Betawi, saudara darimana??? )

Harapan itu ... adalah ketika Ibbor mengejar seorang ibu yg ketinggalan tas berisi uang puluhan juta dan diberi 2 tiket nonton Spiderman di Theater IMAX

Harapan itu ... adalah ketika Ibbor berjalan pulang dari mesjid setelah sholat Jum'at, tiba-tiba ada uang Rp 200rb melayang-layang dan jatuh di kakinya

HAHAHAHAHAHAHAHA ..... Allohu Akbaru ....

Harapan-harapan itu membuat kami tertawa terbahak-bahak, harapan adalah keajaiban.

Drop dan harapan dalam hidup adalah keajaiban, dan keajaiban adalah wujud nyata dari adanya TUHAN.

Alhamdulillah ... terima kasih ya Alloh atas hidup kami .... It's so fun !!!