Senin, 03 Juli 2023

Pergilah ke Tempat Kau Diinginkan

Katanya, makin tua makin banyak pengalaman, tapi jadi makin sedikit teman. Iya sih, tapi bahagia lho ternyata hidup menua itu. Rasanya makin tahu banyak hal dan bersyukur banyak yang dialami memberi perspektif baru. Salah satunya adalah makin menghargai diri sendiri. Karena kita menghargai diri sendiri, maka kita menjauh atau menyingkirkan orang yg tidak menghargai kita, sehingga tersisa orang2 yg penting atau perlu saja dalam hidup kita. Itulah mengapa teman pun semakin berkurang. Tapi, banyak lho ternyata, orang yg tidak nyaman hatinya bahkan ketika sedang sendirian, apakah saking tidak menghargai diri, merasa diri kurang, merasa rendah diri? 

Berdasarkan pengalaman, orang ternyata bisa merasa sedang tak diinginkan. Mungkin saking cemerlangnya (lebih baik pede daripada minder), ada beberapa orang di kantor,  di sekolah, di pertemanan atau dalam sebuah hubungan misalnya, yg tidak lagi nyaman kalau kita ada. Nah, ternyata hal demikian itu tidak mengenakkan. Ternyata, rasanya malah lebih bahagia jika kita berada dalam sebuah situasi dimana kita diinginkan, atau malah berada dalam situasi dimana orang gak peduli kita ada atau gak sekalian. Karenaa ... begitu merasa ada orang yg tidak ingin kita ada di situ, gak nyaman dengan keberadaan kita, nah itu yg sungguh tidak mengenakkan. Entah apa emang kita yg super nyebelin atau dia aja yg kebaperan 😅😅😅

Eh tapi ya, situasi yg membuat gak nyaman karena tak diinginkan ini, ternyata kalau dipikir-pikir membuat kita mensyukuri sesuatu, ternyata saya ada saja sudah cukup. Menjadi saya, dan tidak perlu memikirkan orang lain menginginkan kita ada atau tidak, ternyata cukup. Yang penting, saya masih menginginkan saya ADA, itu saja sudah cukup menyamankan hati. Jadi, jika merasa hati tak nyaman, memang benar kata orang, pergilah ke tempat dimana kau merasa diinginkan, walau ... yg menginginkanmu yah ... hanyalah dirimu sendiri. Semangat .... You're enough ❤️❤️❤️

Jumat, 30 Juni 2017

Tips Untuk Penderita Asam Urat ...

Yuhuuuu ...

Kali ini, saya mau sharing tips untuk penderita Asam Urat. Alhamdulillah, saya sih gak asam urat, tapi ibu saya, suami dan ipar saya, nampaknya punya gejala Asam Urat. Nilai Asam Uratnya antara 7 sampai 9 dan sakit persendiannya sudah mulai agak mengganggu.

Berhubung saya sebisa mungkin menghindari obat kimia, maka rajin-rajinlah saya mencari resep jitu untuk berbagai keluhan. Salah satu yang saya temukan adalah resep menanggulangi Asam Urat ini. Resep ini viral di mana-mana, salah satunya WA. Pertama baca gak terlalu meyakinkan, gak ada sumber jelasnya, tapi penasaran untuk dicoba karena gampang banget. Cuma 3 bulan sekali menggunakan 3 bahan utama. Akhirnya, saya iseng nyobain untuk suami dan ibu saya. Setelah mencoba, suami merasa nyeri sendinya hilang. Sementara ibu saya, setelah 2 hari baru bercerita kalau pagi bangun tidur nyeri sendi jari tangannya hilang. Sebulan setelah minum, ibu saya kebetulan cek lab. Hasil lab Asam Uratnya turun dari 7,9 menjadi 4. Wowww ... Pantesss ... Alhamdulillah ... Mudah, gampang dan cuma 3 bulan sekali pula.

Apa aja bahannya. Silakan disimak ...

Resep Penangkal Asam Urat

BAHAN-BAHAN:

1 buah Nanas (Bisa pakai nanas madu yang lebih kecil, lebih manis dan enak. Dikupas ya hehe ..)
1 buah Lobak putih sekitar 250gr (dikupas juga, tanpa kulit)
3 butir Kemiri (mentah)

Cara membuat:
1. Dijus tanpa air atau diblender dengan sedikit air kira-kira 4 sendok makan (cuma biar larut aja si nanas, lobak dan kemiri)
2. Minum sampai habis minimal 1 gelas. Kalau hasil blendernya lebih ya kasih siapa kek yaaa hehe ...
3. Rasanya lebih segar kalau nanas, lobak dan air dalam keadaan dingin. Nanas dan lobak saya dinginkan di kulkas sebelum dikupas

Resep ini diulang setiap 3 bulan sekali saja.

Gampang kaaannnnnn .... Selamat Mencoba ...

NB: Tulisan ini hanya sekedar sharing pengalaman keluarga saja. Saya bukan dokter, jadi bijaklah menanggapi tulisan saya. Hubungi dokter untuk keterangan lebih lanjut ... Semoga bermanfaat !!

Tips Untuk Pengidap Darah Kental #2 ...

Halo apa kabarrrr ....

Wah sudah 6 tahun lalu sejak saya terakhir sharing tentang darah kental ya. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengontak saya via email dan WA. Kalian hebat sekali. Ternyata saya memang sudah lama sekali gak update dunia darah kental karena sejak 2007 sudah gak pernah main-main ke hematolog ...

Kali ini saya mau sharing beberapa temuan saya terkait hidup saya sebagai pengidap darah kental. Saya bertemu dengan seorang dokter lulusan Jerman dan sharing tentang darah kental. Dia mengatakan sepertinya kehebohan darah kental cuma santer di Indonesia aja ya, ya mungkin karena risetnya memang dimotori sama Dr. Karmel yang orang Indonesia. Paman seorang teman yang berobat ke Singapore aja, ketika dokter sana tahu dulu si paman dipegang sama dr. Karmel, eh malah disuruh balik lagi ke Karmel jyahhh ...

Nah, hasil sharing dengan si dokter Jerman, darah manusia dari lahir itu akan tetap sama. Jadi, ya sudah kodratnya darah itu akan terus sama sampai saat berpulang nanti. Tiap orang memiliki kekentalan darah yang bisa jadi berbeda makanya kalau tingkat kekentalan darahnya ditemukan lebih kental dari yang lain, itu wajar aja. Okelah, saya terima penjelasan pak dokter, tapi kan bukan berarti efek samping yang kita rasakan sebagai akibat darah kental itu dicuekin kannn ... Kan kita yang merasakan dan tahu ternyata ada efek samping merugikannya seperti keguguran atau potensi stroke dan penyumbatan kalau darah gak dimaintain. Oleh karenanya, ada baiknya kita fokus bagaimana me-maintain darah kita.

Pengamatan saya beberapa tahun terakhir masih sama dengan apa yang saya tuliskan tahun 2011 (lihat tulisan http://sicantikmonik.blogspot.co.id/2011/10/tips-untuk-penderita-darah-kental.html), hanya saja sekarang Aspirin mulai susah dicari. Memang ada Aspilet sebagai gantinya tapi gak semua orang cocok dengan Aspilet, salah satunya ya saya. Aspilet kurang manjur buat badan saya, jangan tanya kenapa, gak paham. Nah, karena satu dan lain hal, saya bertemu dengan sebuah ramuan lokal jadul. Warisan kearifan lokal yang sudah lama ada dan ternyata sangat cocok untuk pengidap darah kental, apalagi buat saya yang memang mengurangi asupan obat kimia sejak lama.

Ramuan ini sebenarnya adalah ramuan yang sering dikonsumsi oleh penderita jantung karena salah satu fungsinya adalah penghilang sumbatan pada kapiler jantung. Yang punya keluarga penderita jantung tersumbat yang mesti di-ring atau bypass pasti tahu ramuan ini. Ramuan ini ampuh menghilangkan sumbatan-sumbatan darah, baik karena lemak, kolesterol atau karena darah mengental. Banyak sekali testimoni yang menyatakan bahwa mereka tidak jadi operasi jantung setelah mengonsumsi ramuan ini selama sebulan. Sumbatan darah perlahan menghilang dan berkurang. Salah satu testimoni datang dari suami saya sendiri. Pada bulan Januari, suami saya didiagnosa memiliki jantung tersumbat sebesar 70% yang artinya bila mencapai 80% maka besar kemungkinan, ia akan mengalami serangan jantung. Alhamdulillah, kami bertemu dengan beberapa teman dan saudara yang kemudian merekomendasi ramuan ini. Suami saya mengonsumsi ramuan ini selama sebulan dan sebulan kemudian kapiler jantungnya dinyatakan bersih dengan sedikit sumbatan yang tidak membahayakan.

Sejak saat itu, setiap hari suami saya mengonsumsi ramuan ini satu sendok makan setiap pagi (saat perut kosong). Saya juga gak mau ketinggalan ikut mengonsumsi ramuan ini tiap pagi dan malam 1 sendok untuk pencegahan. Hasilnya badan lebih hangat dan segar, dan sejak Januari saya tidak pernah merasakan kambuh atau perlu minum Aspirin. Tidak cuma itu, berat badan saya dan suami turun hingga 13kg per Juni 2017. Beberapa teman yang mengontak saya via WA dan email, juga saya sarankan mencoba, hasilnya beberapa melaporkan badannya lebih segar dan enakan setelah mengikuti tips dari saya. Darah kentalnya jarang kambuh. Keluhan-keluhan seperti sakit kepala, telinga berdenging, dll juga jarang dialami sejak minum ramuan ini. Tipsnya tentu saja selain mengonsumi ramuan lokal ini tiap pagi sebelum makan dan minum apa pun, juga menjaga makanan yang tidak mengentalkan darah (lihat tulisan http://sicantikmonik.blogspot.co.id/2011/10/tips-untuk-penderita-darah-kental.html) dan jangan lupa bergerak, jalan kaki atau berjemur terutama untuk menghasilkan keringat dan menghangatkan tubuh. Semua yang saya sarankan di tulisan pertama saya masih tetap penting untuk diikuti.

Nah, kembali ke ramuan lokal tadi. Apa saja sih isinya. Kami menyebutnya Jus Bawang, ada lagi yang menyebutnya Jus Baja, ada lagi yang mengeluarkan dengan Brand "MaduCintaVena" sebagai pencegah serangan jantung atau "JoyJus" yang diklaim artis-artis sebagai ramuan pengurus badan. Isinya sama semua. Nah, kita sebut saja Jus Bawang ya. Jus Bawang ini terdiri dari 5 bahan bermanfaat. Anda bisa gooling manfaat dari tiap-tiap bahan. Bahan-bahan tersebut adalah Bawang Putih Tunggal + Jahe Merah + Lemon + Cuka Apel + Madu Murni. Resepnya bervariatif. Salah satu yang saya dapat adalah resep untuk setahun, jadi yang mau coba bisa membuatnya untuk ukuran seperempat resep dulu supaya tidak terlalu banyak.

Resep Jus Bawang

(Diminum 1 sendok makan setiap pagi saat perut kosong dan atau 1 sendok makan sebelum tidur saat perut kosong 3 jam setelah makan terakhir. Setelah minum ini jangan makan atau minum minimal 15-30 menit sampai menyerap)

BAHAN-BAHAN (1 gelas + 200cc)

1 Gelas Sari/Air Lemon (Jeruk lemon diperas hingga mencapai 1 gelas, kira-kira 8 bh)
1 Gelas Sari/Air Jahe (Jahe atau jahe merah diblender dan disaring airnya sampai mencapai 1 gelas, kira-kira 1/4 kg)
1 Gelas Sari/Air Bawang Putih ( lebih bagus Bawang Putih Tunggal, diblender dan disaring airnya hingga mencapai 1 gelas, kira-kira 1/4kg)
1 Gelas Cuka Apel (Apple Cider/Apple Vinegar banyak di supermarket)

(Sari yang dimaksud artinya tidak ditambahkan air. Tapi kalau ditambahkan air juga tidak apa-apa)

Campur semua Sari atau air tadi (total 4 gelas) lalu didihkan dengan api sangat kecil perlahan-lahan selama kurang lebih setengah jam hingga tinggal kira-kira 3 gelas. Saring ramuan (boleh tidak disaring) dan biarkan dingin. Setelah dingin tambahkan 3 Gelas Madu Alami (Royal Honey atau Madu Murni) sehingga volumenya menjadi total 6 gelas. Aduk rata simpan di botol. Cukup untuk konsumsi 10-12 bulan. 

SARAN: Untuk pertama, buatlah seperempat atau sepertiga resep saja. Tidak perlu langsung membuat untuk konsumsi setahun.

Selamat Mencoba !!!!!

Notes: Saya kadang membeli dari teman saya. Dulu pernah juga konsumsi Madu Cinta Vena tapi dibeli di Jogya (Rosee 0857-5397-9115). Joy Jus para artis itu sekitar 300rb per botol kecil. Saya beli di teman saya 70rb pertoples untuk konsumsi 2 minggu. Tapi yang punya teman saya itu sangat kental karena menggunakan Sari yang tidak dicampur air. Westi bilang gak mau ubah resep soalnya yang manjur yg kental ini. Teman saya ini adalah Dosen Univ. Negeri Jakarta di daerah Rawamangun. Biasanya dia mengantar dengan Gojek ke rumah. Kontak teman saya Westi (WA 0811-1990-666).

NB: Tulisan ini hanyalah sharing saya sebagai pengidap darah kental. Saya bukan dokter, jadi bijaklah menanggapi tulisan saya. Semoga bermanfaat ...

Senin, 20 April 2015

School Freak


Saking pengennya sekolah lagi, 
saya sampai pengen coba trial class drum di sebuah sekolah musik. 
Baru ingat kalau tangan dan kaki sering gak sinkron di usia menjelang 40 ini  ...

Saya memang suka banget sekolah. Waktu SD, di tengah pelajaran, perut saya sakit dan ibu guru menyuruh saya pulang. Saya pulang, dan ketika ibu saya membalurkan Vicks di perut dan sudah terasa agak enakan, saya minta balik lagi ke sekolah. Pernah pula, saya diikutsertakan dalam program cabut gigi bersama di sekolah. Selesai cabut gigi di dokter gigi, saya kembali ke sekolah sementara teman saya yang lain memilih pulang dengan kapas di mulut hahahaha ... Pada saat SD ini pula saya ikut kursus musik dan tari, sayang hanya berhenti di tengah jalan ...

Waktu SMP, saya ikut kelas menari Jawa, padahal saya tergolong tambun untuk mengenakan kemben Jawa, hihihi Masa SMA lebih ajib lagi, saya bersumpah tidak akan kehilangan 1 hari sekolah pun, dan selama 3 tahun berturut-turut saya tidak pernah absen, ijin atau pun sakit, hahahaha ...

Ketika tahu teman-teman saya ternyata sudah mengikuti kursus bahasa LIA yang beken di awal 90an, saya gak mau ketinggalan. Saya masuk LIA dan lulus hingga Advance Class usai. Tak cukup LIA, saya juga lulus dari ILP, hayyaaahh tidak hanya itu, ketika sesama teman kuliah membuka kesempatan kursus Bahasa Jepang Dasar, saya pun ikut serta dan lulus sampai Hiragana dan Katakana Class. Ini juga disertai kursus Bahasa Jepang yang dimentori orang Jepang asli yang juga mahasiswa BIPA UI ... Semua kegiatan itu beriringan dengan kuliah saya di Sosiologi UI. Saking sukanya sekolah, saya baru selesai program sarjana setelah 6,5 tahun, hahahaha ...

Lulus kuliah, hidup saya sungguh membosankan. Saya tak kunjung dapat pekerjaan. Kegiatan sehari-hari saya hanyalah mengajar di almamater saya. Itu pun hanya seminggu sekali atau dua kali. Akhirnya, saya putuskan mengikuti kelas motivasi Asia Works dan lulus dari program Basic, Advance dan Leadership Class, ampuuuunnn ...

Perjalanan sekolah saya sempat vakum cukup lama ketika saya mulai pacaran dan menikah. Beberapa tahun menikah, saya tidak lagi tahan. Saya kembali mengambil kursus Make Up Class di Martha Tilaar dan lulus Basic Make Up Artist dalam waktu 2 minggu. Di sela kegiatan mengajar, saya diterima di program non-degree dan bersiap dikirimkan ke Macau sehingga harus mengikuti kursus Bahasa Portugis. Ternyata, di tengah kursus, saya menerima kabar bahwa saya juga diterima di Pasca Sarjana Komunikasi UI. Dengan bahagia saya memilih menjalani program master saya dan lulus Cum Laude dalam tempo 2 tahun.

Setelah meraih gelar master, saya bekerja tetap sebagai dosen. Dua tahun menjadi dosen, tentu saja saya sangat merindukan sekolah. Tahun 2011, akhirnya saya kembali sekolah dan menjalani program doktoral. Saya meraih gelar doktor saya dalam kurun waktu 2 tahun 10 bulan dan mempersembahkan kembali gelar Cum Laude untuk orangtua saya. Tidak ada yang lebih membanggakan bagi saya, selain melihat ayah ibu saya bangga pada saya.

Saat ini, saya masih "lapar" sekolah dan sedang berpikir mengambil gelar S2 atau S3 atau postdoc kembali .... Semoga Alloh melancarkan niatan saya dengan memudahkan urusan finasial dan sebagainya melalui jalan apa saja hahahaha amiiiinnn ...

Sungguh ... Saya benar-benar cinta sekolah ... Masih kagak percaya ?

:D

Selasa, 16 Juli 2013

Jagoan Neon

Jagoan Neon ...

Sudah beberapa bulan ini saya stres luar biasa gara-gara urusan proposal. Walah, proposal yang isinya cuma latar belakang, teori dan metodologi aja bisa bikin pusing berbulan-bulan. Masih untung gak pendarahan seperti tempo hari ujian kualifikasi, hhhh ....

Saya mengalami braindead, frozen head, writer block atau apalah namanya itu. Gimana mau punya proposal kalau mau nulis apa aja gak tau. Saya menolak menjadi positif, menolak bertemu kawan-kawan, menolak pendekatan ke dosen, menolak diskusi, pokoknya menolak segalanya.Saya berteman dengan negative thinking, berteman dengan kemungkinan mundur kuliah, sepertinya lebih menjanjikan kebebasan ... Yang paling terkena dampak adalah mahasiswa-mahasiswa saya, terkena semprotan setiap saat, hahaha

Tapi, memang, kalau orang bijak bilang semua ada waktunya, ya semua ada waktunya. Saya stres luar biasa, ditambah jadwal deadline yang berubah-ubah gak jelas sampai 4x membuat saya makin drop. Akhirnya, ketika saya sudah menentukan jadwal deadline saya sendiri dan memantapkan hati, tetap saja ide untuk menulis tiada, hhhh ...

Sampai suatu hari, teman yang sudah menemukan kebebasan terlepas dari sidang proposal menelepon dan bla bla bla ... Sudahlah putuskan saja kembali ke ide jaman dahulu yang belum saya selesaikan. Saya seperti tersengat listrik, seperti ada aliran listrik menjalar dalam otak saya,

dan suami saya kemudian bersaksi 
bahwa ia melihat jagoan neon, hahahaha

Jagoan Neon adalah permen anak-anak era '80 - '90an. Jagoan Neon adalah permen sparkling yang berupa butiran, yang bila butir-butir itu diletakkan di lidah, maka kita akan merasa seperti ada sengatan-sengatan listrik muncul di lidah. Nah, itu yang dilihat suami saya ketika saya terima telepon dari sahabat saya itu ...

Selama 4 hari saya mengetik tidak berhenti, membongkar pasang kerangka berpikir. Dan 2 hari sebelum deadline, saya tidak tidur. Saya selalu mengetik hampir 12 jam setiap hari. Tangan saya jarem, keram, kejang, apa pun namanya itu. Ketika hari deadline tiba, suami saya bilang, saya pucat dan seperti zombie (mayat hidup). Mata cekung, muke beler, setun berat, hahahaha dan saya masih berjuang ke Salemba untuk mengumpulkan proposal ... Akhirnya proposal saya jadi. Seratus empat halaman. Legaaaa ... Alhamdulillah ...

Teman-teman saya takjub luar biasa. Baru minggu lalu, mereka melihat saya menggerung, meraung, melenguh (hahaha...) mau berhenti kuliah. Eh seminggu kemudian ngumpulin proposal. Kata suami saya, benar-benar Jagoan Neon, hahahahaha Kalau lampunya sudah On, gak bisa berhenti .... Teman saya bilang mesin diesel, panasnya lama. Gak papa deh, apa pun julukannya pokoknya ngumpulin proposal, hahahaha ....

Senang ... Moral of the story is ... When it's time, it's time, don't worry too much. Enjoy your drama for once is not a sin ... :D Semangattt ....

Senin, 01 April 2013

SAYA dan kamu ...

Saya ini berbeda .... Mungkin klise, tapi saya memang beda. Dari kecil pikiran saya sudah berbeda sendiri. Tahun 80-90an, saat teman-teman saya senang main ke luar, ke cafe, jalan-jalan ke diskotik, nonton bioskop, saya lebih suka ditemani novel bejibun sambil makan. Sukaaaa sekali ....

Saya ini berbeda .... di saat semua orang langsing, kecil, mungil, singset, dan lain-lain itu, saya ini gemuk, kribo dan suka makan ... Saya sudah terbiasa mendengar julukan buntelan kentut, gajah bengkak, sarang tawon, dan lain-lain ... 

Apakah saat itu, saya tahu dan sadar saya berbeda??? Tentu tidak ... Hampir 2/3 hidup saya, saya habiskan mencapai standar normal dunia. Hampir 2/3 hidup saya, saya habiskan mencapai berat badan ideal, meluruskan rambut, mencari kesamaan dan bersembunyi dalam keseragaman di dunia.

Apakah saya bahagia??? Tidak ... Saya langsing, tapi tak bahagia. Rambut saya lurus tapi saya tak bahagia. Bahagia saya semu. Saya sedih, tapi saya tidak tahu saya sedih. Saya pikir saya telah menyenangkan siapa saja dengan menjadi serupa dengan yang diinginkan dunia. Tapi ternyata saya tidak ...

Saya belajar ... Saya berkembang ... Saya berproses menjadi saya ... Saya bertemu orang lain yang mendukung saya menjadi saya kembali. Saya sudah hampir buta dengan saya yang mendunia, tapi itu bukan saya yang saya ...

Saya ... Siapa saya?? 
Saya ... Makhluk Tuhan paling berharga dalam hidup saya, hanyalah saya

Saya menjadi saya saja sudah cukup ... Ketika menjadi saya, saya bisa membagikan diri saya pada kamu, dan kamu sekalian. Sayalah yang kalian dapatkan. Bukan lagi boneka serupa saya yang selama ini kalian kenal. Saya telah menjadi saya. Saya bangga pada diri saya ... Teman-teman berguguran, teman-teman penyuka boneka saya kesal, saya bukan saya yang dulu, saya sombong, saya berkembang menjauhi saya yang mendunia.

Hanya kamu, kamu tempat saya mengadu dan berbagi. 
Kamu yang mengintip awalnya dan membuka pintu menyegerakan saya masuk ke hatimu yang nyaman mengenal saya. Saya bahagia ... Saya menjadi saya ...

Saya, seutuhnya ... bergerak menjadi lebih menyaya ... Ditinggalkan, dituduh, dibuang, dilempar karena tidak seperti saya yang dunia inginkan. Tapi saya punya kamu ... Kamu yang tahu saya ... 

Terima kasih membiarkan saya menjadi saya. Semoga bersama saya, kamu menemukan kamu pula ...

Menjadi berbeda butuh keberanian ...
Saya berbeda ... Lalu kenapa?? Saya bangga ...


*didedikasikan untuk kamu, yang selalu ada ketika mereka mencoba meniadakan saya ...

Senin, 18 Februari 2013

Tukang Bully ...

Apa sih bullying ???? Kata yang baru di dalam kamus kita tapi sebenarnya sudah lama ada di realitas kita. Jaman saya lebih dikenal dengan kata gencet, ngospek, dll. Tapi sebenarnya bully lebih dari itu. Ada bully yang kasar dan ada bully yang halus. Itu menurut saya lho, jangan dijadikan landasan ilmiah. Bully kasar ya yang tadi saya sebutkan, nggencet junior, ngospek anak baru, yg model gitu masuk kategori bully kasar. Yang menarik dibicarakan adalah bully halus, kalo bahasa jadulnya ngenyek abis, hahahaha

Gayanya sih terkesan sophisticated
tapi perilakunya dan bercandanya sungguh rendahan, 
tanpa logika dan cetek

Itu yang saya sebut ciri-ciri tukang bully sejati. Pendidikan boleh tinggi, tapi pemikiran tetap gak ketolong, masih kalah sama pemikiran ponakan saya yang berusia 9 tahun. Jangankan mengandalkan pendidikan, mengandalkan etika saja payah total. Jadi, menurut saya tukang bully itu selalu berusaha menyembunyikan 'kerendahan'nya itu dengan perilaku dan image yang tampak seolah-olah sempurna, pakaian dan penampilan excellent plus gelar berderet atau posisi keren di sekolah, kampus, kantor, bahkan di dunia politik. Tapi seperti pepatah mengatakan, "sebaik-baiknya ikan busuk disimpan, baunya akan tercium juga" ... Jadi, sebaik-baiknya tukang bully, tetep ketahuan selera humor dan akademisnya produk rendahan.

Bagaimana bentuk dari bully halus?? 

Bully halus bersembunyi dalam humor, candaan dan celetukan yang seakan-akan mengandung kelucuan, namun di dalamnya mengandung makna dalam akan tindakan iri hati, dengki dan menjatuhkan pihak lain. Tak hanya itu, pihak lain yang dimaksud pun merasakan hal tersebut. Yang sangat lucu, kelucuan yang membungkus ternyata tidak lucu, karena alih-alih membuat orang tertawa malah membuat orang lain sakit hati atau tidak nyaman. Itulah bullying dan itulah cara si tukang bully beraksi.

Nah, orang model begini tidak akan pernah ... catat dua kali ... TIDAK AKAN PERNAH sadar atau tahu dirinya tukang bully bila tidak ada pihak lain yang memberi informasi. Bahkan, tukang bully sejati akan merasa ingin membully orang yang memberi info itu padanya. Intinya, si tukang bully tidak akan terima bahwa dirinya adalah tukang bully dan akan berusaha keras membully siapa pun yang mengatakan dia sebagai tukang bully. Ini bagus sekali, karena si tukang bully semakin membuka kedoknya sendiri dan tidak dapat mengontrol dirinya untuk semakin menunjukkan bahwa dia adalah tukang bully sejati. Jadi, kegiatan ini harus dilakukan secara langsung atau diwacanakan melalui pihak ketiga.

Bila kita sadar sepenuhnya yang dilakukan oleh si tukang bully, maka kita akan tertawa bahagia ketika si tukang bully kemudian membuka kedoknya sendiri. 

Bagaimana cara menghadapi si tukang bully?? Sungguh mudah, seperti juga menghadapi pesakitan lainnya, yang bisa dilakukan oleh orang awam seperti kita (yg bukan para ahli kejiwaan), adalah tidak menanggapi bullying yang dilakukan, tidak menganggap sejajar tukang bully (karena jelas lebih rendah dari kita) dan berperilaku lebih baik serta lebih beretika, karena hal yang tidak dimiliki si tukang bully adalah moral dan etika. Dengan beretika dan bermoral, jelas si tukang bully tidak akan berhasil menembus benteng pertahanan kita dengan etika dan moral wanna be yang dia junjung tinggi.

Jadi, di dalam hidup yang sehat, terdapat perilaku saling hormat-menghormati terhadap sesama yang sehat. So, fun life only happens when bullying is not on the menu ... Have a fun life ev'rybody ... 

*tulisan ini adalah sharing kecil agar semua pembaca waspada dengan sosok para tukang bully yang bersembunyi di balik topeng-topeng kehormatan. Semoga bermanfaat !!!

Selasa, 29 Januari 2013

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa - Akademisi Genit

Guru ... Pahlawan tanpa tanda jasa ...

Apakah masih pantas ???

Sungguh menyedihkan perlakuan pendidik dan terhadap pendidik dewasa ini. Komodifikasi dalam hal apapun telah merusak guru. Industri pendidikan sungguh menyedihkan. Tidak perlulah membahas kode etik akademis, jika di antara para akademisi saja memahami kode etik saja sudah terbingkai oleh kapitalis.
Sungguh sedih ... 
para akademisi genit yang berhias pupur ... melacurkan diri mencari pelanggan memakai jasanya. Masihkah institusi pendidikan ada???? Institusi pendidikan, tonggak integritas, kemanakah larinya???

Sungguh sedih ... 
ketika ilmu telah diperjualbelikan. Ilmu yang karya kerja manusia, menjadi ilmu yang direndahkan, ilmu tanpa martabat bertebaran dimana-mana.


Sungguh sedih ... 
pahlawan tanpa tanda jasa, hanya menjadi sapi perahan ... saling mencerca satu dengan lainnya ... lupa terikat kode etik menghormati ilmu lainnya


Akademisi genit tertawa bangga ... 
bangga dengan keturunannya telah mengabdi pada kapitalis, bangga telah mencetak buruh pemuja kapitalis, bangga telah menyebarkan paham kapitalis ... bangga menjadi pahlawan palsu


Wahai akademisi genit ...  di balik pupur tebalmu, kau tak lain hanyalah seorang budak ... 
Masihkah pahlawan tanpa tanda jasa pantas disematkan di dadamu??

Wahai penghancur masa depan bangsa

Untuk para akademisi genit, yang merendahkan akademisi lainnya, yang merendahkan ilmu dan kerja manusia, merendahkan kehidupan, yang bersembunyi di balik gelar tak berkesudahan dan singgasana institusi pendidikan .... Pandangan hina dilemparkan pada anda yang terbuai dengan kesadaran palsu kuasa ...

Marah nih yeeeeeeeee ....... Hahahahahahahha ... Just have a fun life ev'rybody ... Being angry is wonderful sometimes ... Feel it and be alive ... 

Sabtu, 26 Januari 2013

Magic Words ...

TOLONG, MAAF, TERIMA KASIH

Tiga kata ajaib yang menunjukkan integritas seseorang bila diucapkan dengan seyakin-yakinnya diri



: D

BERSERAH ... MENYERAH ... TERSERAH ...

Pasrah dan berserah seperti kata orang-orang tua itu sungguh-sungguh menarik ... Sudah sejak remaja saya tergelitik berat sama yang namanya berserah alias pasrah ini. Sungguh ... Bila terkena musibah, kita diminta berserah, bila nilai jelek, berserah, bila gak dapet yang kita mau, berserah, bila gak sesuai rencana, berserah ... Sungguh menarik ... 

Saya perhatikan, walaupun seringkali diucapkan, orang nampaknya sulit sekali berserah, termasuk saya. Dulu pepatah paling saya ingat sejak SD adalah "Sesal Kemudian Tak Berguna". Pepatah itulah yang menjadikan saya perencana paling detil, sedetil-detilnya ... Saya takut sekali salah, saya takut sekali menyesal. Namun semakin percaya pepatah tersebut, semakin penyesalan hadir dalam keseharian saya.

Hidup saya sungguh lucu, menurut saya. Saya dihadapkan pada situasi menikahi seorang manusia yang jarang menyesal, gak pernah malah seingat saya. Sungguh-sungguh bertolak belakang dengan saya yang perencana ini. Suami saya, adalah guru berserah saya. Saya tidak pernah melakukan berserah sehebat dia, tapi saya belajar banyak.

Masa sepanjang hidup saya memperlihatkan, orang (termasuk saya) mengungkapkan kata berserah, pasrah, nrimo dan lain-lain, namun tidak percaya pada diri mereka apakah mereka bisa melakukannya. Karena berserah artinya telah mengusahakan semaksimal mungkin lalu berhenti berusaha dan menyerahkan pada si Empunya kehidupan untuk memutuskan hasilnya. Berserah adalah mempercayai qodarNya. Menjadi sulit karena manusia selalu berusaha menghindari misteri kehidupan. Manusia selalu tergoda untuk mencari kepastian. Dan berserah, melawan segala bentuk kemanusiaan. Berserah adalah godaan terbesar manusia sebagai pembuat keputusan atas dirinya. Berserah adalah cobaan manusia karena menyerahkan misteri kehidupan untuk diungkap oleh selain dirinya.

Berserah ....

Jodoh mati rejeki ada di tangan Penguasa Kehidupan. Jodoh mati rejeki adalah milik Alloh. Bahkan orang-orang beriman telah berulang kali mengucapkannya dan masih pula tidak mempercayainya. 

Saya dan suami bahu-membahu membayar uang kuliah kami di jenjang S2 dan S3 saat ini. Kami selalu hanya punya dana untuk biaya pendaftaran dan biaya untuk semester pertama. Tidak pernah menyiapkan dana untuk semester berikut-berikutnya. Sejak awal kuliah, perkataan suami saya adalah, "Bila Alloh mempermudah kita mendaftar kuliah ini sejak hari pertama, maka kuliah ini adalah jalan hidup kita selanjutnya dan Dia akan mencukupinya". Saya, tentu saja saat itu  hanya mengiyakan namun lebih percaya bahwa saya bisa mendaftar karena hasil ujian saya baik, CV saya bagus dan saya melengkapi segala persyaratan. Ketika dihadapkan pada bayaran semester-semester selanjutnya, saya sungguh stres luar biasa. Segala yang kami miliki, mobil, tabungan, simpanan, hingga mas kawin sudah menjadi bagian dari dana pendidikan kami. Tapi suami saya tetap percaya bahwa Tuhan akan mencukupi dengan jalanNya yang sekonyong-konyong. Banyak sekali sudah bukti keajaiban itu menghampiri hidup kami, dan sungguh luar biasa.

Saya masih ingat momen melepas cincin kawin kami untuk biaya pendidikan semester terakhir suami saya di S2. Sungguh luar biasa karena kami membutuhkan dana Rp 3 juta, sementara harga cincin kawin kami setelah ditakar hanya mencapai Rp 2,7 juta. Saya saking sedihnya melepas cincin kawin pilihan kami itu, tidak mau ikut ke toko emas dan hanya menunggu di sebuah foodcourt. Tapi kemudian suami saya datang dengan berseri-seri dengan cerita yang luar biasa.

Awal minggu itu kami sudah kehabisan simpanan. Bahkan untuk makan saja, kami mengandalkan beras sisa dan indomie sebungkus. Pernah saking membutuhkan dana untuk sekolah, kami rela makan sepiring nasi berdua dengan kuah indomie banyak-banyak, hahahahaha senang. Karena itu prioritas kami jelas, uang tersisa hanya untuk hal-hal penting. Hari itu suami saya sudah kegerahan ingin sekali memotong rambutnya, tapi harga termurah adalah Rp 8rb, sementara dengan uang segitu lebih baik kita beli indomie 2 bungkus, hmmm ... dilema. Akhirnya saya memberanikan diri mencukur rambutnya. Untuk pertama kali saya jadi tukang cukur, dan hasilnya sungguh luar biasa. Suami saya nampak 15 tahun lebih muda, jadi kayak anak SMP, hahaha kasihan. Namun ternyata berkat potongan rambut itulah cerita ini jadi luar biasa.

Ketika akan menjual cincin kawin kami, dia sudah berkeliling beberapa toko emas di Melawai, namun harga yang ditawarkan hanya Rp 2,4 juta hingga Rp 2,7 juta. Padahal kami butuh Rp 3 juta untuk semester terakhir ini. Tiba di sebuah toko emas terakhir, si uda pemilik toko memandang suami saya dalam-dalam dan bertanya, "Ini keponakan dari Menteng ya, anak si A?", suami saya menjawab, "bukan pak, saya bukan orang Padang". Si uda kemudian berujar lagi, "Ah masa sih, potongan rambutnya mirip sekali (ha????). Iya ah, kau ini pasti anak si uda Menteng (sambil memanggil bawahannya) ... Sudah kasih saja Rp 3 juta itu cincinnya. Ini saya juga ada siomay buat kamu. Salam ya untuk si A". Suami saya berkeras bahwa ia tidak mengenal bapak A dan ia bukan orang yang dimaksud, tapi si uda sudah memaksa. Jadilah suami saya berseri-seri menghampiri saya di foodcourt dengan membawa Rp 3 juta dan tambahan siomay, hahahaha ... 

Pernah pula kami sangat amat membutuhkan uang untuk makan minggu itu, dan saya minta suami saya untuk berdoa banyak-banyak ketika sholat Jum'at. Sepulang sholat Jum'at, suami saya berjalan kaki untuk menemui saya di tempat mengajar. Di perjalanan, ketika ada angin lewat, tiba-tiba ada uang Rp 200rb mendarat di kakinya. Kaget luar biasa, suami saya celingukan, dan memutuskan menunggu 15 menit, takut ada orang naik motor dan uang tsb terjatuh ketika lewat tadi. Setelah hampir 30 menit ditunggu, tidak ada yang datang dan lewat. Jadilah, kami hari itu mendapat rejeki untuk makan seminggu, hahahahaha

Suatu hari suami saya menunggu temannya mengambil motor di lobi pertokoan. Di sebelahnya ada seorang ibu membawa koper kecil, dan sibuk menelepon kesana kemari. Suatu ketika, si ibu sambil menelepon menaruh kopernya dan memanggil taksi dan terburu-buru menaiki taksi tersebut. Koper ditinggal. Suami saya berteriak-teriak memanggil si ibu tapi taksi telah melesat pergi. Suami saya minta ijin pada satpam untuk mengejar dengan ojek. Satpam tidak berani membuka koper dan mengiyakan. Sambil menunggu ojek, suami saya mengintip koper yang ternyata berisi berpuluh-puluh ikat uang ratusan ribu bergebok-gebok. Sepertinya ada beberapa ratus juta rupiah dalam koper tersebut. Begitu ojek datang, suami saya langsung kebut mengejar taksi. Taksi melihat dikejar ojek semakin kencang. Akhirnya suami saya berusaha keras mengetuk jendela si ibu, minimal mendapat perhatiannya. Awalnya si ibu tidak mengerti dan ketakutan, tapi suami saya menunjukkan kopernya, barulah ia minggir. Tanpa membuka isi koper si ibu berkali-kali mengucapkan terima kasih. Oh andainya segepok hilang, toh tidak kentara, hahahahaha tapi suami saya mengembalikan semuanya. Si ibu merogoh dompet dan mengeluarkan 2 buah tiket nonton Spiderman, dan jadilah siang itu saya dan suami duduk manis di bioskop, hahahahahaha .... Rejeki dan sekali lagi Alloh yang mengatur.

Dan masih banyak lagi keajaiban lainnya ... nanti saya buatkan bukunya ....

Peristiwa-peristiwa itulah yang membuat saya meyakini apa yang dinamakan berserah seyakin-yakinnya. Hanya Dialah yang mengatur dan menjadikan apa pun itu. Kita hanya berusaha, benar, tapi kita tidak punya kuasa atas hasil.

Cobaan terberat manusia adalah kesombongan atas hasil.
 Lupa bahwa ada Dia-lah satu-satunya yang berhak atas hasil akhir. 

Peristiwa-peristiwa itulah, yang membuat saya menyadari keajaiban-keajaiban dalam hidup saya.

Hingga saat ini, berserah adalah senjata saya. Sulit ... Namun, berserah membuat hidup nampak mudah dan membahagiakan. Berserah membuat hidup penuh syukur, dan syukur adalah nikmat.

Semoga kita semua termasuk kaum yang senang bersyukur. Amin






Senin, 12 November 2012

Golden Rules : Aturan Emas

Seorang teman meraung-raung, merasa gak diperhatikan, merasa tidak dihargai, tidak ada yang mau berempati dengan masalahnya, sedih, merasa ditinggal, dia sangat menderita menjadi korban dunia yang kejam ini. Teman-teman meninggalkannya, sedih sekali ...

Benarkah begitu ....

Well, saya ini adalah penganut Golden Rule ketat ... Sudah tau Golden Rule khan??

"Treat Others as You Want to be Treated" - Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.

Dalam kalimat tersebut ada makna yang sangat dalam lainnya, buat saya, makna tersebut adalah: bagaimana orang lain memperlakukan anda saat ini adalah hasil dari perlakuan anda pada orang lain pula. Jadi dalam kasus teman saya di atas, ketika dia bingung merasa "jatuh" seperti di atas, apakah pernah terpikir olehnya, mungkin saja ia ikut andil dalam "kejatuhannya" tersebut.

Golden Rule ini sangat berlaku dalam hidup saya dan suami saya. Suami saya adalah penganut Golden Rule yang taat, hahahaha ... tapi menurut saya lho. Orangnya memang baik sekali dan anehnya, orang memang baik padanya.

Dia percaya sekali bahwa segala hal di muka bumi ini sudah diatur oleh si Empunya Dunia, jadi kita gak perlu ribet dan pusing memikirkan hal-hal yang gak penting itu. Jalani hidup saja dan nikmati, berbuat baiklah dan nikmati hasilnya. Saya malah tipe yang pesimis awalnya, tapi menilik jalan hidupnya, kok memang rejeki dia itu sungguh mencengangkan.

Kalau saya katakan rejeki sungguh mencengangkan, jangan bayangkan kami penuh uang dan harta melimpah. Itu mah urusan dunia yang sungguh basi, dan gak penting. Kesuksesan diukur dari jumlah harta wah gak matching sama suami saya. Sukses buat dia adalah diingat sebagai orang baik, tapi itu pun tidak perlu diusahakan, karena jalani hidup aja dengan baik, maka kita jadi orang baik kok.

Kami hanya keluarga sederhana yang berharap setiap hari bisa menjalani hidup dengan tenang hari itu saja sudah alhamdulillah, jadi sungguh tidak neko-neko. Tuhan selalu menyediakan apa pun untuk kami. Suatu hari saya ingin sekali makan pizza, namun karena itu adalah kemewahan saat itu untuk kami, maka saya cuma bisa ngiler saja lihat fotonya, tapi tentu saja, dengan cengiran khasnya, suami saya pulang membawa 2 loyang pizza ukuran besar, buah tangan dari berbuat baik menolong orang katanya. Begitu pula dengan berbox-box ayam KFC yang rutin hadir, serta berkilo-kilo pempek dan bakso pengasihan siapa pun yang pernah ditolongnya. Tabiat menolong orang itu juga menghasilkan suami saya pulang membawa 2 pasang sepatu baru berharga ratusan ribu. Sudah beberapa tahun ini, dia juga tidak pernah beli baju baru dan HP baru karena semua hadiah. TV, Printer, bahkan uang 200rb pun melayang di kakinya suatu hari tanpa tahu darimana berasal dan harus dikembalikan kemana. Wah, kalo dihitung, sudah gak tau berapa banyak cerita ajaib itu. Silahkan tanya sahabat-2 saya ... saya aja suka pusing mengingatnya. Saya pikir cuma ada di film atau novel, hahahaha ...

Berbuat baik akan menghasilkan pertolongan bagi kita. Menurut saya bukan isapan jempol. Itu terbukti nyata, minimal dalam hidup kami yang sederhana ini. Golden Rule berlaku dalam hidup kami.

Jadi, bagaimana keadaanmu saat ini wahai kawan sekalian?? Happy? Lonely? Take your time to think, what've you done lately? It might surprise you when you see it as a full-circle ...

Enjoy and have a fun life ...




Rabu, 03 Oktober 2012

Akademisi ??? Intelektual ??? HAH !!!

Hobi saya memang sekolah, tapi tahukah Anda bahwa bersekolah itu tidak bisa hanya sekedar lulus. Ternyata dalam ilmu yang lebih banyak terdapat tanggung jawab yang juga lebih besar.

Tulisan saya sebelumnya sebenarnya adalah tulisan egois karena kesal kenapa memilih sekolah sebagai hobi tidak bisa semudah hobi koleksi perangko misalnya ... Konsekuensi memiliki pengetahuan lebih banyak karena bersekolah membawa tanggung jawab yg juga besar. Sebutan kaum akademisi itu sungguh berat. Pilihan hidup yang sulit ... Mau jadi hobi terus tutup mata ya kok aneh juga ...

Sudah lama saya tahu bahwa kaum akademisi punya tanggung jawab besar dalam hajat hidup orang banyak, terutama soal kemanusiaan. 



Kemarin saya diingatkan kembali bahwa dalam banyak pemikiran, kaum akademisi menjadi tumpuan harapan dalam kehidupan sosial. Kita ambil saja pemikiran Marxisme misalnya. Pemikiran Marxisme bersumber pada pemikiran Marx dalam banyak hal. Meskipun begitu ada beberapa perbedaan. Bila Marx mengatakan dalam sejarah perjuangan masyarakat manusia, terdapat 2 kelas yg terus berkonflik (borjuis dan proletar), maka dalam pemikiran Marxisme, selain 2 kelas tersebut, terdapat sebuah kelas menengah yang disebut Gramsci sebagai kelas intelegensia, yaitu kaum akademisi.

Dalam perjuangan buruh yang tiada akhir, maka ramalan Marx menyatakan bahwa suatu hari buruh akan menang melawan jeratan borjuis dan kapitalis dalam sebuah revolusi. Namun, dalam pemikiran Gramsci, perjuangan buruh tersebut tidak akan menjadi revolusi bila hanya mengandalkan ekonomi, namun juga harus dibantu dan didukung oleh kelas intelegensia. Kaum akademisi inilah yang memiliki kapital budaya, yaitu akses pada ilmu pengetahuan untuk menyebarkan kesadaran kelas dan menghajar kesadaran palsu yang selama ini disebarkan dan disosialisasikan oleh kapitalis. Ini cuma 1 pemikiran. Walaupun kemudian Adorno pesimis dengan harapan yang dinyatakan Gramsci, namun itu lain soal.

Jadi dengan memilih hobi sekolah, terutama sekolah hingga jenjang S3 sekarang ini, mau tak mau saya juga harus memikirkan mengenai beban moral yang harus saya tanggung itu. Saya sendiri bukan tipe pejuang lapangan yang turun ke jalan utk menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Saya dan suami saya sepakat itu bukan panggilan kami. Saya juga bukan pekerja sosial yang bisa dengan mudah bersentuhan dengan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan sukarelawan dan kegiatan sosial kemanusiaan. Namun demikian, pernyataan ini bukannya tanpa proses melalui itu semua. Kalo urusan menjadi sukarelawan dan pekerja sosial, wah saya sudah jatuh bangun rasanya. Saya sudah berkali-kali mendedikasikan diri untuk berbagi dengan anak-anak Panti Asuhan, orangtua di Panti Jompo, bahkan menjadi pekerja sosial selama 3 bulan di Panti Tuna Grahita (yang lebih hebat lagi, kebanyakan dilakukan sendirian tanpa teman-2 saya, hahahaha). Apalagi, saya sudah sering ikut ini itu atas nama berbagi, memang menyenangkan tapi kok saya tidak tenang dan tidak puas ya, saya merasa bukan itu panggilan saya.

Berbeda dengan mengajar, mau gak dibayar, mau cuma sebentar, mau sengaja tidak sengaja, saya suka mengajar. Mengajar membuat saya bahagia, berbagi dengan orang lain yang menyenangkan. Saya cinta sekali mengajar. Nah, mungkin itulah panggilan saya (Kalo kata sahabat saya, Yanti, drama Virgo, wheww ...) Jadi ilmu yang saya dapat dari hobi sekolah saya itu bisa disharing dan dapat menumbuhkan rasa kemanusiaan mendalam pada anak didik. Tapi kan mengajar tidak hanya mengajar, mengajar punya konsekuensi mendidik pula.

Mengajar saja dengan mudah dapat dilakukan, tapi konsekuensi mendidik itu yang berat. Mendidik berkaitan erat dengan integritas. Seorang pendidik harus menjaga martabat dan integritasnya. Bila itu hilang dari seorang pendidik, saya tidak heran banyak kasus yang memperlihatkan profesi pengajar jauh dari unsur mendidik. Menjadi pendidik, maka Anda harus memikirkan masak-masak segala tindakan dan konsekuensi tindakan Anda pada anak didik di kemudian hari. Jadi, bila para pengajar tidak memikirkan hal itu, maka sebaiknya mari merenung tentang apa sebenarnya panggilannya di dunia. Yang pasti bukan sebagai pendidik. Itu hanya sekedar pekerjaan, bukan panggilan dan pengabdian.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya akan berbagi dalam panggilan saya sebagai pengajar dan pendidik. Terserah orang bilang saya seharusnya bisa lebih aktif dalam ini itu, ikut sukarelawan, ikut kegiatan amal, ini itu, tapi buat apa bila untuk menyenangkan orang lain. Yang tahu kapan saya bahagia adalah saya. Jadi sayalah diri saya. Hobi sekolah yang menyenangkan saya, harus menerima konsekuensi, yaitu berbagi ilmu. Hobi sekolah tidak akan membuat saya berhenti belajar, tapi juga saya harus menerima bahwa saya pun tidak boleh berhenti berbagi ...  :D

Kalau kata Gramsci, apakah kita ini Intelektual Tradisional atau Intelektual Organis? saya rasa berbagi tanpa memikirkan yang mana yang mendefinisikan diri kita lebih baik dibandingkan mengategori diri dalam sebuah kelompok namun terbebani dengan definisi itu sendiri. Halah ... makin stres ...

Buat yang baca, kok mau sih baca blog saya. Kalian ini aneh-2 saja ... isinya ngawur dan sudah pasti saya larang utk dijadikan referensi ilmiah, hahahahahahahahaha

Have a fun life ev'rybody ... Do what you wanna do and be happy with it ... Don't do it for others apalagi if you do it because you have to please others ... No, we shall be happy first to make others happy ... 

Percaya deh sama saya, hidup menyenangkan orang lain adalah palsu, namun hidup bahagia dan berbagi kebahagiaan itulah yang membuat orang lain juga merasakan bahagia dalam diri mereka ...

Sekali lagi ... Have a fun life ....

Minggu, 30 September 2012

Hobi Saya : Sekolah ...

Kemarin sahabat saya, Kiki datang ke kos. Curhat panjang tentang sekolah dan persiapannya ... Dalam perjalanannya menempuh pendidikan S3, Kiki bertemu orang-orang yang dia anggap 'determined' dengan sekolahnya. Ada yang bilang bahwa cita-citanya sekolah adalah bikin buku yang akan membantu anak-anak belajar Matematika dengan lebih mudah. Ada yang bilang pengen bikin LSM untuk membantu masyarakat dan ada yang akan mengembangkan sistem demi kemajuan masyarakat. Pokoknya semua cita-cita yang Kiki dengar bikin dia merinding disko. Lalu mikir ...

Nah, dalam proses mikir itulah Kiki bertemu dengan saya. Kami diskusi. Emang apa tujuan kita sekolah ... Mikir ... (kegiatan yg bikin males) ... Dalam proses merajut pikiran tiada ujung, kami sepakat bahwa tujuan kami adalah sekolah itu sendiri. Kebetulan kami berdua, walaupun secara pribadi jauh banget dari mirip, namun punya hobi sama, yaitu sekolah. Sekolah membuat kami tergila-gila. Kami tidak peduli apakah di sekolah itu kami akan menjadi anak pintar atau bodoh, yang penting, kami bisa sekolah saja sudah alhamdulillah ... Ternyata eh ternyata, sekolah membawa konsekuensi yang gak gampang.

Saya jadi ingat ketika saya diwawancara dalam seleksi masuk sekolah. Dalam pemikiran si pewawancara (ini dugaan saya) bahwa tujuan saya bersekolah sebenarnya bukan tujuan utama, ada tujuan lain di balik itu yang dengan sekolah maka tujuan itu akan saya capai. Apakah kenaikan pangkat, kenaikan gaji, dll. Ohya??? Anda Salah Besar Prof ... saya tidak peduli dengan kelulusan, saya cuma ingin sekolah ... Jadilah semua jawaban saya dimentahkan. Sampe jawaban andalan saya terakhir 'ingin menyenangkan orangtua' pun tak diterima. Bingung juga saya. Yang ditanya saya kenapa kok jawaban dia yang kudu benar. Aneh ...

Aniwei, kembali ke obrolan saya dan Kiki, kami sepakat bahwa kami suka sekolah. Terlepas dari keuntungan maupun kerugian yang akan kami peroleh sebagai konsekuensi dari bersekolah, so be it, kami suka sekolah. Sekolah itu passion, sekolah itu hidup kami. Sekolah adalah air dalam kehausan yang dalam. Kami cinta sekolah. Hobi kami adalah sekolah (mahal amat hobi lo Mon ...).

Kiki bilang kita tidak perlu pintar atau menjadi pintar dengan bersekolah. Kita cuma perlu tekun, ulet dan yakin, bahwa ini yang kita suka dan insya Alloh dengan izin Alloh akan bermanfaat buat kita dan sekeliling kita. Terserahlah apa anggapan orang. Orang bilang kalau kami berdua ini lebih determined dan punya target-2 pencapaian dengan sekolah kami, maka kami mungkin sudah di atas langit kesuskesan. Tapi, bukan itu yang kami inginkan ... Kami tidak peduli dengan apapun yang (di mata orang) membuat kami tampak sukses, pintar, keren, tajir dengan sekolah. Kami cuma ingin ada di sekolah, diberi tugas-2 yang membuat kami bisa membaca, membuat tugas dan menjadi lebih tahu. Kami tidak terganggu dengan kepayahan yang disebut orang. Orang bilang sayang banget otaknya tidak digunakan untuk mencapai kepintaran dan kesuksesan. Kami tidak peduli. Seperti juga pada pasangan yang kami cintai, maka kami menerima sekolah apa adanya ...

Nampaknya makin gak jelas. Tapi emang gue pikirin. blog-2 gue eni .... Jadi kalau ada lulusan S3 dan orang membandingkan kami dengan mereka dan mengatakan bahwa kami bisa seperti mereka kalau kami lebih berusaha dan determined, maka saya akan bilang, trus gue mesti gangnam style gituh ... Ngerti gak sih, bahwa sekolah itu cuma hobi buat kami, dan seperti juga yg hobi mancing atau nyanyi, gak perlu juga sampe menang Idol kali buat melakukannya. Cape deee ...

*tulisan ini ditulis dalam keadaan sangat kesal dengan tuntutan masyarakat pada kaum yang dikelompokkan sbg kaum intelektual (padahal kenyataannya, yg dikatakan intelektual gak ngerasa intelek, cuma ngerasa lagi ngerjain prakarya. Kebetulan aja prakaryanya sekolah S3) ...

Rabu, 13 Juni 2012

Drop dan Harapan ...

Seorang teman baik drop. Hidupnya berantakan dan tak lagi indah ketika merasa semua teman dan sahabatnya ditimpa musibah (bukan dia lho ...). Ia merasa segala musibah pun akan dialaminya, jadi buat apa hidup susah, sekolah dan berinvestasi dengan berbagai rencana, kalau akhirnya akan sirna ketika saatnya tiba. Kondisinya, saya namakan drop alias jatuh tuh tuh ... semangat dan gairah hidup sedang drop drop drop ...

Saya kemudian mengingat-ingat, masa-masa dimana saya drop. Lucunya tulisan "Mau Mewek ..." yang kemarin saya posting, adalah kondisi dimana hidup saya penuh semangat dan menyenangkan, karena saya masih bisa merasa mau mewek ... Lalu bagaimanakah kondisi drop. Saya rasa, drop adalah sebuah kondisi yang lebih "mengerikan" dimana tiada harapan akan masa depan, dan rasanya "tidak hidup", seperti zombi jalan gitu ... lebay!!

Baiklah, jadi menurut saya:

Drop itu ... adalah ketika saya tahu kehamilan saya tidak berkembang dan jabang bayi di dalam rahim saya sudah tiada

Drop itu ... adalah ketika lagi-lagi saya tahu kehamilan kedua saya tidak berkembang dan jabang bayi kami lagi-lagi dipilih Tuhan untuk menemaninya di sana

Drop itu ... ketika dokter mendiagnosa saya sebagai penderita darah kental dan tidak dapat disembuhkan

Drop itu ... adalah ketika rumah 2 lantai yang kami tinggali, terbakar habis

Drop itu ... adalah ketika saya melihat mas kawin saya, kumpulan hadits Bukhori dari suami saya, ludes terbakar api

Drop itu ... adalah ketika saya lihat 4 rak buku-buku yang saya dan suami kumpulkan habis dilalap api

Drop itu ... adalah ketika semua foto perkawinan, hadiah perkawinan, dan semua yg berhubungan dengan memori perkawinan saya hilang lenyap bersama lantai 2 rumah

Drop itu ... adalah ketika semua kumpulan kaset seumur hidup, kumpulan novel seumur hidup dan semua kumpulan-kumpulan hidup saya hilang bersama asap api hitam

Drop itu ... adalah ketika saya merelakan perhiasan mas kawin saya dijual ke toko mas untuk bayar kuliah suami saya

Drop itu ... adalah ketika tidak tahu bagaimana makan besok karena tiada sepeser pun uang

Drop itu ... adalah ketika kami berharap bantuan tapi tiada jawaban

Drop itu ... adalah ketika saya tahu saya tidak mungkin melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya

dan semua drop-drop lain dalam hidup yang saya tidak ingat ....

Tapiiiii .... , seperti habis gelap terbitlah terang, rangkaian kehidupan setelah drop, selalu menerbitkan harapan ...

Harapan itu ... adalah ketika hubungan saya dan suami menjadi lebih kuat dengan kepergian buah hati kami

Harapan itu ... adalah ketika saya tahu obat darah kental adalah cukup minum aspirin yg murah meriah secara rutin

Harapan itu ... adalah perasaan ikhlas pada segala kejadian

Harapan itu ... adalah ketika semua sahabat, teman dan kerabat men-support hidup kami setelah kebakaran

Harapan itu ... adalah berkat support dari para handai taulan kami bisa beli buku lagi

Harapan itu ... adalah karena kebakaran saya bisa lanjut sekolah lagi

Harapan itu ... adalah ketika tidak tahu lagi besok makan apa, tiba-tiba dengan berseri Ibbor pulang bawa 2 loyang pizza hut pemberian orang

Harapan itu ... adalah ketika kelaparan, Ibbor pulang bawa sekeranjang ayam KFC karena KFC memberi 7 ayam utk yg berulang tahun hari itu

Harapan itu ... adalah ketika kami sedang drop-dropnya, tiba-tiba Ibbor pulang bawa sepatu Skechers 2 pasang utk suami istri pemberian temannya

Harapan itu ... adalah ketika kami menjual perhiasan mas kawin terakhir, si penjual menaikkan harganya dan memberi hadiah siomay kesukaan saya karena dia ngotot Ibbor adalah saudara jauhnya berkat rambut Ibbor yang, karena saking gak punya uang baru saya cukur sendiri awal minggu itu, "rambutnya mirip sama saudara Menteng", katanya ...  (lha, si uda orang Padang dan Ibbor Menado Jawa Betawi, saudara darimana??? )

Harapan itu ... adalah ketika Ibbor mengejar seorang ibu yg ketinggalan tas berisi uang puluhan juta dan diberi 2 tiket nonton Spiderman di Theater IMAX

Harapan itu ... adalah ketika Ibbor berjalan pulang dari mesjid setelah sholat Jum'at, tiba-tiba ada uang Rp 200rb melayang-layang dan jatuh di kakinya

HAHAHAHAHAHAHAHA ..... Allohu Akbaru ....

Harapan-harapan itu membuat kami tertawa terbahak-bahak, harapan adalah keajaiban.

Drop dan harapan dalam hidup adalah keajaiban, dan keajaiban adalah wujud nyata dari adanya TUHAN.

Alhamdulillah ... terima kasih ya Alloh atas hidup kami .... It's so fun !!!


Senin, 11 Juni 2012

Mau Mewek ....

Dulu, mau mewek itu urusannya sama percintaan, atau ada masanya percintaan beres muncul mau mewek karena masalah keluarga. Setelah menikah, gak pernah lagi mau mewek soal percintaan dan keluarga. Meweknya cuma soal finansial. Penting gak penting.

Tapi ternyata, kalau dipikir-pikir ternyata bahkan mau mewek pun monogami ya, hanya karena sebuah isu di suatu masa. Mungkin karena Alloh tahu, lebih dari 1, umatnya yg satu ini gak kuku ... Jadi beginilah daftar mau mewek gue beberapa tahun terakhir ini.

Mau mewek itu .... adalah ketika mau bayar sekolah, eh inget duitnya setengah jumlah yg harus dibayar juga gak nyampe ... alhamdulillah udah setengah, mau mewek ... :)

Mau mewek itu ... adalah ketika bokek berat eh disms bokap untuk kirim duit terus jd gak bisa ngirim biar 50rb juga ... gak guna banget jadi anak yak ... :(

Mau mewek itu ... adalah ketika laper berat tapi duit cuma tinggal 10rb buat ongkos besok ... alhamdulillah masih ada buat ongkos besok pagi ... :)

Mau mewek itu ... adalah ketika lihat Ibbor rela makan nasi doang tanpa lauk, sementara Indomienya dikasih ke gue ... :(

Mau mewek itu ... adalah ketika nyokap nyuruh pulang ke rumah tapi duit buat ongkos pulang gak ada ... :(

Mau mewek itu ... adalah ketika semua teman membicarakan tabungan, sementara gue gak punya tabungan sama sekali ... :(

Mau mewek itu ... adalah ketika Ibbor gak wisuda master karena gak punya uang 350rb buat bayarnya ... :(


Mau mewek itu ... adalah waktu bertekad tidak ikut wisuda master, eh ada Wahyu yang minjemin duit ... :)

Mau mewek itu ... adalah lihat tampang bangga bokap gue waktu gue diwisuda dan Cum Laude ... yang dia gak tahu adalah wisudanya pake uang pinjeman ... :)

Mau mewek itu ... adalah mendengar orang mengeluh gak punya duit tapi bisa makan enak, punya rumah dan bisa ke luar negeri ... yah ikut seneng, terus tinggal googling suasana luar negeri, mayan ... :)

Mau mewek itu ... adalah sudah 2 tahun tidak pernah liburan sama sekali padahal pengen ....

Mau mewek itu ... adalah ketika lihat hasil kerja Ibbor ngajar sebulan, cuma lewat untuk bayar kos ... :(

Mau mewek itu ... adalah inget rejeki-rejeki jaman dulu yg sudah bukan rejeki saat ini ... mobil, rumah, isi rumah yg sudah tiada ... alhamdulillah pernah dikasih rejeki enak :)

Mau mewek itu ... adalah tidak punya rencana masa depan, karena untuk hidup besok saja masih dipikirkan caranya ... kadang seneng juga gak repot banyak pikiran :)

Mau mewek itu ... adalah lihat Ibbor sabar banget ngadepin gue yang mau mewek ...

Mau mewek itu ... adalah ketika bisa bersyukur dan mengaji ke mesjid tiap hari Jum'at tanpa malas ... :)

Yah, standard kehidupan gue sehari-harilah ... insya Alloh sebentar lagi era mau mewek akan lebih banyak karena syukurnya ... Semua itu indah, dan alhamdulillah keadaan mau mewek hadir sebagai rangkaian keutuhan keindahan ... Alhamdulillah ... ugh ... jadi mau mewek ...

Selasa, 03 April 2012

OMG ... Saya menonton The Raid bersama Balita ...

Malam ini, ketiga kalinya saya menonton The Raid. Gratis lagi. Bahagianyaaa ... Lucu juga, menonton 3 kali dengan 'rasa' yang berbeda setiap kalinya. Yang pertama di Premiere, mencekam karena cuma nonton berdelapan. Yang kedua, nonton sore-sore di bioskop reguler, seruuuu ... penuh desahan, candaan, dan bersatu dalam teriakan-teriakan, sehingga tidak terlalu mencekam (saya suka momen yang kedua ini). Yang ketiga, sudah malem, pada teler, makin mencekam dan kurang menggigit jadinya. Kebanting sama nonton sore dan rame.

Berdasarkan pemilihan jam tayang, saya memilih The Raid yang tayang pukul 21.25. Logikanya, pada jam sekian, saya tidak akan menemukan hal-hal ajaib, karena pasti isinya orang-orang neduh, capek pulang kantor atau nunggu macet terurai. Eh, ternyata logika gak berlaku dalam kamus Jecardah the capital city.

Beli tiket, aman. Ngantri aman. Ehhhh ... kok duduk depan saya, keluarga muda dengan 1 anak balita usia sekitar 2 tahun. Oalahhhhh ... ndak gaul tha bapak ibunyaaaa ...

Dalam berbagai ulasan, saya menyimpulkan bahwa ada 3 pihak yang 'seharusnya' bertanggung-jawab' bila ada anak di bawah umur bisa nonton The Raid di bioskop dengan bebasnya. Jelas dan tegas, film ini telah dikategori sebagai film Dewasa, yang artinya anak di bawah umur DILARANG KERAS menonton dan melihat konten ini. Jelas, karena isinya penuh adegan kekerasan. Untuk kita yang tahu hal tersebut cuma sekedar seni peran, efek film dan bohong belaka, yo ndak masalah broooo ... lha, anak kecil yo pasti efeknya beda tho. Saya aja masih inget film komedi yang agak serem karena parodi film setan-setanan, tapi ngerinya masih terbawa sampe usia 30 tahun gini. Apalagi nonton The Raid, gak kebayang ... Padahal di semua social media sudah dibahas tentang kekerasan dalam film ini. Kok yo masih nekatzz ...

Yang pasti, buat saya ada 3 pihak yang bertanggung-jawab. Yang pertama adalah pihak bioskop, yang tahu pasti bahwa film ini dilabel Dewasa dan Restricted buat anak di bawah umur. Yang kedua, tentu saja, orangtua, yang tidak memikirkan dan tidak mengedukasi dirinya bahwa hal ini berbahaya untuk masa depan anaknya. Yang terakhir, dimana saya masuk dalam kategori tersebut, adalah masyarakat. Masyarakat yang bertanggung-jawab adalah masyarakat yang melindungi komunitasnya. Pembiaran hanya menghasilkan kehancuran bagi masyarakat itu sendiri.

Berbekal pemikiran tersebut, saya, yang duduk persis di belakang keluarga bahagia tersebut, berniat merusak kebahagiaan mereka. Saya datangi dari belakang, dengan bercanda, "Pak, bu, serius nih ngajak anak kecil nonton The Raid? Saya sudah nonton 3 kali dan banyak adegan darah dan gorok leher lho, takut trauma aja anak bapak ntar-ntarnya ...".

Yang terjadi, mereka tidak beranjak. Adalah hak prerogatif mereka atas anak mereka, namun saya tidak mau pulang dengan perasaan tidak melakukan apa-apa. Tapi yah, saya tau diri, siapalah saya yang cantik ini ...

Ternyataaaa .... usaha saya tidak sia-sia. Walaupun tetap tidak beranjak, ternyata mereka jengah juga. Dari awal bertekad membuat anaknya ngantuk dan tertidur. Repot ... Si bapak sibuk ngajak becanda, si ibu sibuk nawarin makanan. Si anak dibikin ngantuk. Tiap ada adegan 'keras' si anak dhadapkan ke belakang, ketemu muka cantik saya. Heleh ... heleh ... syukurin, gak asik kan nontonnya.

Yah, minimal, saya merasa usaha saya ada gunanya, karena setengah film kemudian, si anak terkuple, tidur ... mungkin capek liat bapak emaknya ribet gak jelas ... syukurlah ...

So, guys ... if you love The Raid like I do, literasi media dan pengawasan media sangat penting ... educate yourself, your family and your society. Mungkin kita tidak berbuat banyak, tapi minimal kita bisa berbuat sesuatu ...

Lega, bisa pulang dengan hati tenang, gak merasa bersalah ... Hehehehe ...

*kalau sempat, lihat juga ulasan saya tentang The Raid di tulisan sebelumnya, have fun ... *

Minggu, 01 April 2012

The Raid : Ekstasi Kekerasan atau Semangat Baru ?

Sudah menyaksikan The Raid 2 kali. Besok sore ada lagi yang mengajak untuk nonton lagi. Gak nolak ...

Terus terang, saya dan suami sudah menunggu kehadiran film ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Kami selalu menyaksikan trailernya berkali-kali dan melihat interview-interview yang berhubungan dengan film tersebut di youtube. Akhirnya medio Maret 2012, kami bisa menikmatinya di bioskop. Film ini mendapat penghargaan di luar negeri, bahkan dalam waktu seminggu sudah meraup $200.000 di Amerika, padahal hanya diputar di 14 bioskop saja di sana. Buyer-nya juga gak tanggung-tanggung Sony Pictures bo!!



Film ini juga menuai pro dan kontra di berbagai media, terutama social media. Biasanya yang kontra menyesalkan adanya tampilan yang mengundang kengerian dan kekerasan. Bahkan ada yang saking sebalnya, beberapa orang walk-out di tengah film karena dinilai terlalu 'keras'. Selain itu, kontra lainnya adanya diskusi yang menyesalkan pihak bioskop, para orangtua dan masyarakat yang tidak tegas dengan label Dewasa yang dicapkan pada film ini. Saya juga termasuk yang menyesali bila ada anak di bawah umur dapat dengan bebas menyaksikan film ini. Bahkan di sebuah kejadian yang diceritakan pada saya, seorang ibu diam saja ketika anaknya sudah merengek ngeri menyaksikan film ini. Payah sekali orangtua model begitu. (baca juga: OMG ... saya menonton The Raid bersama balita ...)

Karena ini blog saya, maka inilah pendapat saya.

Saya, secara pribadi sangat menyukai film ini. Unsur ceritanya tidak ribet dan tidak berbelit, namun dialognya cukup menjelaskan situasi. Dari menit pertama hingga akhir, kita diajak tidak berhenti konsentrasi pada adegan. Waktu nonton pertama, memang agak sedikit kaget dengan kekerasan yang ditonjolkan. Tapi setelah beberapa saat, saya melihat dengan kacamata lain.

Kebetulan saya seorang penikmat seni (walaupun tidak fasih di bidang tersebut). Menurut saya, dari segi kekerasan, film tersebut tidak terlalu mengumbar adegan yang mengeksploitasi hal tersebut. Dibandingkan film Kill Bill, menurut saya, kekerasan yang muncul cukup dan relevan sesuai dengan jalan cerita. Lagipula, ini memang film action, jadi dari awal kita sudah harus siap melihat kekerasan yang akan muncul di berbagai adegan. Buat saya, Kill Bill adalah film Drama yang dibungkus action, kalau The Raid memang film action.

Setelah nonton kedua kali, keindahan dalam film ini semakin nampak. Tentu saja, dari segi genrenya, saya sangat bangga pencak silat bisa diperkenalkan pada dunia internasional dengan cara ini. Tidak hanya itu, berbagai komentar positif dari pengamat film di luar negeri pun memastikan hal tersebut. Pencak silat yang dipertontonkan dalam film ini, membuat film action ala barat terasa garing dan lelet, membuat kungfu jadi sedikit basi dan membosankan. Paduan seni bela diri seperti tarian yang dikoreografi oleh Iko, Yayan dan Gareth, membuat pencak silat terlihat sangat indah. Itulah yang membuat penonton luar negeri terkaget-kaget akan seni bela diri, yang mereka klaim terlihat seperti menari, namun sangat kuat. Lihat adegan Iko bertarung dengan penjahat di gudang produksi drug, adegan pertarungan di atas meja panjang itu, gerakannya indah sekali.

Lalu, perhatikan juga angle kamera yang ada dalam berbagai adegan. Bagus sekali. Angle kamera ketika Iko dan temannya yang terluka harus bersembunyi di balik dinding sempit, namun kemudian harus menerima goresan pedang yang ditusukkan penjahat. Adegan disorot dari atas dan close up pada wajah Iko, itu keren banget.

Belum lagi membicarakan segi akting. Buat saya, keseluruhan aktingnya setidaknya 1 level di atas akting film Indonesia biasa. Iko dan Yayan bermain apik. Namun, akting paling kuat menurut saya, ditampilkan oleh Ray Sahetapi dan Joe Taslim. Sudah lama gak lihat Ray Sahetapi beradegan sekuat itu. Asyik sekali melihatnya. Terutama adegan terakhir sebelum ia dimatikan oleh penulis skenario. Akting Joe Taslim juga mengundang pujian. Apalagi ini adalah film layar lebar pertamanya. Sebelumnya, ia pernah 2 kali berakting dan ia juga dikenal sebagai model dan atlit nasional judo yang mewakili Indonesia ke ajang SEA Games dan juga berlaga di PON. Jadi cukup menyenangkan melihatnya berakting manis di film ini. Apalagi setelah saya tahu, ia sengaja mendatangi Gareth untuk meminta peran dalam film ini sejak ia menyaksikan film Merantau.

Saya ingat, membaca sebuah ulasan yang menganggap film ini dan penontonnya seperti 'merayakan' kekerasan. Malah kadang para penonton larut dan bertepuk tangan ketika penjahat berhasil dikalahkan. Adegannya diperlihatkan sangat sadis. Tak jarang ketika menonton film ini, terdengar teriakan-teriakan ngeri dari kursi penonton di kanan kiri. Saya, menonton film ini 2 kali. Yang pertama saya menonton di bioskop Premiere, yang menonton hanya 8 orang dan sangat hening. Keadaannya sangat mencekam. Ketika menonton kedua kalinya, saya menonton di bioskop regular, bersama puluhan penonton yang berteriak-teriak, ternyata perasaan saya sungguh berbeda. Menonton beramai-ramai tidaklah semencekam menonton bersama sedikit orang. Justru di situlah letak kebersamaannya. Perasaan ngeri sedikit terobati dan malah jadi terus teringat bahwa ini hanya sekedar tontonan, tidak usah terlalu serius. Nikmati sajalah ... toh semua yang berakting dalam film tersebut hanya pura-pura terluka dan pura-pura mati, hueee ...

Wah, buat saya, film ini cukup asyik. Mungkin seperti dahulu ketika 'Ada Apa dengan Cinta?' muncul, ada semangat baru yang dirasakan. Film ini pun buat saya, terlepas dari pro dan kontra terhadapnya, merupakan semangat baru dalam dunia perfilman Indonesia. Ini terlihat dari keseriusan mereka yang benar-benar berlatih hingga dikarantina di kamp militer terlebih dahulu sebelum syuting mulai.



Film Indonesia yang soundtracknya discore sama Mike Shinoda dari Linkin Park kan jarang lho. Jadi cukup membanggakanlah ...

Tapi itu menurut saya lho ... Yang punya pendapat lain, ya tidak salah juga, toh kita memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda, jadi wajar ada perbedaan pendapat. Sepakat untuk Tidak Sepakat ... Jadi, selamat menonton ...

Lihat komentar penonton dari luar negeri di http://www.rottentomatoes.com/m/the_raid_redemption/

Wawancara Gareth di Sundance 2012:



Ini reviewnya di Sundance 2012:









Jumat, 09 Maret 2012

Adele, Jackie Evancho dan Gotye : Harapan di tengah serangan K-Pop

Hhhhhhhhh ... K-Pop lagi, K-Pop lagi .... bahkan di kampus pun ada yang bikin penelitian tentang K-Pop lagi, K-Pop lagi ... Proposal disertasi S3-nya keren sih, tapi begitu tahu tentang K-Pop, langsung pengen mewek. Bosennnn ... Bukannya anti Korea, dulu juga seneng banget ngikutin Full House atau apalah itu yang sadurannya Itazura na Kiss versi Korea, lupa, tapi bocen ajah gitchu ...

Saking bosennya sama K-Pop udah seminggu ini dengerin lagu lama jaman baheula dari 70's, 80's and 90's dan menggerung-gerung kenapa lagu-lagu sekarang gak dalem, menggigit dan bersyair 'tembak langsung', melelahkan ... jadi inget Sartre dengan kejernihannya yang terkutuk itu ...

Beberapa bulan lalu, diundang main ke rumah sahabat lama di daerah Petukangan (iye, maksud gue emang elu, Ki ...) dan diperkenalkan pada Adele. Plis dehhhh telat banget kaleee ... ya pegimane, familiar sih ama lagunye, tapi kagak tau nyang nyanyi namanya Adele, keren pula orangnya. Namanya juga lagi sekolah, urusan laen liwat ... sibuk ngerjain tugas n ngumpulin duit biar bisa lanjut gitu loch ... (alesan, padahal kagak gawol).




Denger Adele, rasanya gimanaaaa gitu, gak pake gimmick yang bikin orang pusing dengan hal-hal gak penting. Cukup Adele dengan make-up lengkap dan baju hitam, serta suara yang enak didenger. Gak perlu merayu dengan dandanan super heboh yang nutupin suara ... suara jadi gak penting, yang penting kehebohannya ...

Pokoknya denger Adele, inget kembali masa-masa tempo doeloe, masa dimana menyanyi itu bener-bener jual suara ... kalo artis sekarang mah, suara nomer dua deh, yg penting heboh n gimmick di sekelilingnya. Hah, payah ... simulakrum kuno yang gampang ketebak.

Alhamdulillah, selain Adele, ada si bersuara dahsyat, Jackie Evancho ... membius, lagi-lagi gara-gara maen ke rumah Kiki (nyebelin lu ya Ki ...). Gak bisa ngomong apa-apa deh, nih anak emang harapan dunia, hahahaha ...




Kemudian, hari ini dalam hidup gue (telatttt bangettt dahhhhh ... ) hadirlah Gotye yang waktu pertama denger dia nyanyi, gue pikir itu lagu barunya Sting apa Peter Gabriele gitu, dahsyat banget. Akhirnyaaaaa .... ada lagu masa sekarang yang bisa gue ulang-ulang 2 jam sambil menikmati dan gak berlirik 'tembak langsung', dangkal dan ecek-ecek, hah ... sebel ...

Jadi, buat yang belum kenalan sama Gotye, kata Benyamin S, "Ni, gue beri ... !!".

Gotye "Somebody that I Used to Know (feat. Kimbra)" - Lyrics



Buat penyuka Adele, Jackie dan Gotye, bila anda generasi Y yang lahir di tahun 90an, alhamdulillah ternyata anda punya selera lumayan dan andalah harapan saya karena tidak ikut terlempar dalam arus hegemoni K-Pop di bumi nusantara ini. Syukurlahhhh .... (padahal kalau dilihat pemilihan lagunya, saya juga gak jauh beda ya, hahaha terlempar dalam hegemoni lagu Barat, hyahhhh ...)

Yang penting senenglah ... blog-blog gue eni, kekkkekekekekkkkk ...

Minggu, 08 Januari 2012

Spooky Phat Girlz ...

Setelah masa UAS diisi dengan begadang tiap malem ngerjain Take Home, maka setelah masa UAS beres, mata belum bisa kompromi buat tidur cepet.

Tadi malem jam 3 pagi, gue gak sengaja nonton film yang menurut saya keren abiz. Emang nontonnya udah tengah-2 tapi ternyata masih relevan buat diikuti. Besoknya saya googling, ternyata itu film tahun 2006 berjudul Phat Girlz. Ceritanya sederhana, tapi dalem. Memang buat yang ngarepin nonton film gak pake mikir pesan moralnya, agak males nonton kayaknya, tapi siapa sih yang gak pernah punya masa merasa gak normal, salah dan gak diterima dalam hidup. Ada sih tapi gak saya bahas, hahahaha

Tapi buat sayaaaa .... itu film bagus banget karena menggambarkan pengalaman saya juga, menjadi orang tidak normal, di dunia orang normal. Dari judulnya aja udah ketahuan, film itu menggambarkan pengalaman being a fat girl in our society. Menjadi perempuan yang hidup di dunia 'laki-laki' saja sudah berasa subordinat, apalagi ditambah being a fat girl, 2 kali pukulan telak.

Alhamdulillah masa-2 itu sudah agak berlalu, bukan masa-2 gemuk, tapi merasa tidak normal dan tidak diterima dalam masyarakat. Padahal normal gak normal cuma konstruksi aja. Apalagi konstruksi stereotip orang gemuk, yg dibilang penyakitan, pemalas dan lain-2, padahal yg kurus penyakitan dan pemalas, buanyakkkk ...

Kenapa sayabilang agak berlalu?? karena tidak bisa dipungkiri memang masih ada memori akan masa itu hadir dalam keseharian. Seperti apa sih pengalaman being a fat girl di dunia ini, bagaimana mengetahui perasaan kami, nonton aja filmnya. Keren ...

Ada beberapa quote di film yang memang menggugah. Inget ada adegan dimana perempuan-perempuan langsing dengan tubuh aduhai mengata-2i si pemeran utama yang tambun, dengan tenangnya si pemeran utama (setelah mencintai dirinya) cuma bilang, 'elu yang udah cakep gitu, perlu ngejelekin orang lain agar merasa diri cakep, wah ternyata elu gak cakep2 amat ya??'

Ada lagi pengalaman si pemeran ditolak laki-laki karena bentuk tubuhnya. Tapi ternyata, ada juga kok laki-laki yang naksir. Kalo soal pengalaman ditolak laki-laki mah, yg langsing juga banyakkkk ... kalo kata suami saya, jangan terlalu merendahkan laki-laki juga, karena gak semua laki-laki serendah itu, cuma lihat perempuan dari bentuk fisiknya aja. Banyak laki-laki yang punya prinsip dan memang berkelas, karena memilih perempuan yang sesuai dengan kecocokan hati. Bukan modal body tapi gak bisa diajak diskusi. Sama aja kayak perempuan, banyak juga toh yg berkelas dan punya prinsip gak liat laki dari isi dompet dan luarnya aja. Yah sama ... namanya juga sama-sama manusia, jadi jangan dibeda-2kan. Love you beib ...

Ada lagi quote yang keren dari si pemeran (yg ternyata emang hobi makan seperti saya dan yang lebih edan lagi namanya pun Mo'nique, ihiks). Gini quotenya: it's not us having weight problem, it's them having problem with our weight. Bener bangettttttttt .... so they try to push us to see the same way as theirs. Will never do it again ...

premis film itu menurut saya adalah: love yourself, embrace yourself so that you can give love to others ... persis seperti hidup gue. Dulu sebelum saya mencintai diri sendiri, susah banget mencintai orang lain, minimal suami sendiri deh. Ada aja curiganya. Tapi sekarang, love him very much ... kadang kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan gak pilih-2 waktu menciptakan manusia. Semua indah dengan berbeda-2, tapi kita aja dengerin kata setan bahwa beberapa lebih baik dari yg lain ... lebih langsing lebih baik, lebih kaya lebih baik, lebih pinter lebih baik, bla bla bla ... helloooo, syukur gak sih dikasih hidup sama Alloh ... yang penting itu hidup, beraktivitas, segar dan bugar. Kalo sakit sekali-2 diberi cobaan Alloh mah biasaaaa ...

If he loves me that much, why can't I love me much ... Yeay ... lets in love with ourselves ... We are ok ... God knows ...


Selasa, 20 Desember 2011

Pusat Kebugaran

Hari ini kantor sepi, maklum lagi pada nemenin mahasiswa ke Puncak. Tinggallah berdua sama mbak Lestari di kantor. Udah beberapa minggu ini dia join jadi anggota di sebuah pusat kebugaran di daerah Gandaria. Penasaran banget karena udah kepikiran berbulan-bulan pengen olahraga di tempat yang gak kena asep mobil. Hmmmm .... agak tertarik juga jadinya.

Monik : Jadi gimana mbak Pusat Kebugarannya???
Mbak Tari: Hahhhhh .... aku tertipu banget deh. Bayar ini itu habis 1,4 jutaan ternyata begini begitu. Begitu aku mau mundur, ehhhh ... didenda 500rb. 

Murka berat doi. Dasar pusat kebugaran gak bener ....

jadi inget jaman kuliah dulu, jaman belum nerima diri 100% (baca: jahiliyah), jaman ingin mengubah diri jadi lebih langsing gak penting ... wkwkwkwkwkwkwk ... Emang yang namanya Pusat Kebugaran selalu ajaib. Masih inget deh, rame-2 sama temen kos daftar di sebuah pusat kebugaran kecil di pelosok Depok. Gilingan, banyak hal menarik (kalau gak bisa dibilang aneh atau sinting). Bayangin tuh Pusat kebugaran terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama penuh dgn alat-2 fitnes tempo dulu (aduuuhhhh jgn bayangin kayak fitness first atau celebrity yaaa) dan berisi cowok-2 body gueda-gueda yg menyeramkan ... jadilah kalau kita dateng, biarpun sekosan, se-RT dan se-RW tetep ngibrit buru-2 ke atas. Ngeri betul kena kedipan body Ade Rai tapi tampang mesi-mesi angkut pelabuhan ... *merinding

Di atas gak kalah ajaib. Tempatnya lumayanlah luas, yg ajaib, pengajar aerobiknya adalah mahasiswa sekolah tinggi ilmu olahraga gitu ... keren kannnnn ... cakep pula. Tapi tentu saja, instruktur aerobik cakep ada konsekuensinya. Anak-2 UI keren sekos tetep kalah binal ama tante-tante girang penghuni tetap Pusat kebugaran. Inget banget ada seorang tante, yg ternyata penyanyi dangdut pinggiran terkenal (karena pernah muncul di TVRI) yg gayanya selangit, intens banget memperhatikan pelajaran, hihihihi ... yg gak nahan, OMG itu bulu ketek jambrong bener tannnn ... usut punya usut, ternyata simbol seks jadul ya itu bulket jambrong, jadi tetep dipertahankan, hueee ... jd inget penampilan Eva Arnaz di film Dono, persisssss ...

Kalo kebetulan si instruktur mahasiswa tadi agak lumayan, tapi kalo udah dapet yang binal, waduh repottttt ... pengennya nyiksa, tau kenapa.

Aniweiiiii .... ternyata perjuangan naik angkot 2 kali dari kosan ke Pusat kebugaran agak terbayar. 
Dalam waktu 3 bulan 17 kg ajah turun *prok prok prok ... beberapa bulan kemudian, naik ajah 20 kg. Mantappppp ....

Itu baru namanya kehidupan ... Walau sudah tak minat langsing, tapi perasaan bugarnya itu lho yg bikin kecanduan. Mungkin harus kembali ke Pusat kebugaran ... Hmmm, that's why namanya Pusat Kebugaran ya, karena emang fungsinya bikin bugar. Bukan Pusat Pelangsingan .... cool ...